Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Indonesia menorehkan tiga pencapaian penting dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat. Capaian tersebut meliputi penurunan tarif melalui Agreement on Reciprocal Tariff (ART) menjadi 19 persen, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kemitraan bisnis bernilai sekitar Rp600 triliun, serta kepercayaan bagi Indonesia untuk menjadi Wakil Komandan Pasukan Perdamaian dalam forum Board of Peace (BoP).
Founder Freedom Institute, Rizal Mallarangeng, menyebut rangkaian hasil tersebut sebagai “hattrick” diplomasi Indonesia di Washington DC. Menurutnya, capaian ini menjadi momentum positif yang patut diapresiasi, terutama karena terjadi di tengah dinamika global yang tidak mudah.
Ia menjelaskan bahwa tiga keberhasilan tersebut diperoleh secara berurutan. Agenda pertama adalah Business Summit yang mempertemukan Presiden Prabowo dengan para pelaku usaha besar dari Amerika Serikat dan Indonesia. Forum ini juga melibatkan pengusaha nasional yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri Indonesia.
Pertemuan itu dinilai tidak sekadar simbolis. Dari forum tersebut, Indonesia berhasil mengamankan komitmen perdagangan sebesar 38 miliar dolar AS. Selain itu, kedua negara juga menandatangani MoU kemitraan bisnis senilai sekitar Rp600 triliun. Kerja sama tersebut mencakup sektor energi, hilirisasi industri, manufaktur, teknologi, hingga penguatan rantai pasok strategis.
Menurut Rizal, angka-angka tersebut menjadi landasan konkret sebelum masuk pada capaian berikutnya, yakni kesepakatan tarif bilateral. Ia menekankan bahwa proses negosiasi tidak berlangsung singkat, melainkan melalui tahapan panjang yang penuh dinamika.
Hasilnya, tarif yang sebelumnya berada di kisaran 32 persen berhasil ditekan menjadi 19 persen. Ia menilai capaian tersebut optimal, mengingat kondisi global yang kompetitif dan tidak selalu berpihak pada negara berkembang. Dalam pandangannya, penurunan tarif ini akan memberikan kepastian akses pasar bagi produk Indonesia di Amerika Serikat, yang merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia.
Rangkaian kunjungan tersebut berlanjut dengan partisipasi Indonesia dalam forum Board of Peace, sebuah inisiatif baru yang bertujuan mendorong penyelesaian konflik Palestina–Israel. Dalam forum tersebut, Indonesia dipercaya menempati posisi Wakil Komandan Pasukan Perdamaian.
Rizal menilai langkah ini sebagai terobosan penting karena Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga terlibat dalam upaya operasional perdamaian global. Ia menegaskan bahwa forum tersebut dirancang bukan sekadar ruang diskusi, melainkan wadah aksi konkret untuk merespons konflik.
Dalam waktu yang relatif singkat, Indonesia dinilai mampu menyelesaikan agenda ekonomi, mengamankan komitmen investasi besar, sekaligus memperkuat posisi dalam percaturan geopolitik internasional. Kombinasi capaian ekonomi dan diplomasi itu dianggap menjadi sinyal positif bagi arah pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Di tengah beragam respons publik, Rizal mengajak masyarakat untuk melihat momentum ini secara lebih objektif dan konstruktif. Menurutnya, situasi seperti ini seharusnya mendorong optimisme yang rasional, bukan sikap sinis, karena peluang besar tengah terbuka bagi Indonesia di tingkat global.
Artikel Terkait
Pidato Prabowo di PBB: Tegaskan Dukungan Palestina, Tuai Pujian Hingga Disandingkan dengan Bung Karno
Gus Yahya Tegas Tolak Mundur dari PBNU, Bantah Isu Israel dan Tegaskan Dukungan Palestina
ITS Siapkan 100 Beasiswa bagi Mahasiswa Palestina
Diplomasi Palestina Menguat, Menlu RI Bertemu Sekjen PBB Bahas Board of Peace dan Solusi Dua Negara
Indonesia Tegaskan Sinergi DK PBB dan Board of Peace Demi Perdamaian Palestina