"Hasil simulasi menunjukkan gas karbon monoksida diduga kuat berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. Konsentrasi yang dihasilkan bisa mencapai 2.000 ppm, jauh di atas ambang batas aman bagi manusia," jelasnya.
Menurut Ibnu, karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sehingga sering kali tidak disadari keberadaannya. Dalam ruang tertutup dengan ventilasi terbatas, gas tersebut dapat dengan cepat menggantikan oksigen yang dibutuhkan tubuh.
Menutup konferensi pers, Kombes Pol Artanto mengingatkan masyarakat agar menjadikan tragedi ini sebagai pelajaran penting dalam menjaga keselamatan saat berkemah maupun berwisata di alam terbuka.
"Jangan menyalakan tungku arang, kompor portabel, atau sumber pembakaran lainnya di dalam tenda maupun ruang tertutup. Karbon monoksida tidak terlihat dan tidak berbau, tetapi sangat mematikan karena dapat menyebabkan hilangnya kesadaran hingga kematian," tegasnya.
Polda Jawa Tengah berharap kejadian serupa tidak terulang dan masyarakat semakin memahami risiko penggunaan alat pembakaran di area tertutup, terutama saat beraktivitas di kawasan wisata alam.*