Banjir di salah satu kelurahan di Kota Bengkulu, akibat hujan lebat mellanda daerah ini.(Foto/Dok)
Bengkulu, SUARA PEMBARUAN-Banjir yang melandahampir seluruh wilayah Provinsi Bengkulu, sejak (5/4/2026), tidak bisa lagi dibaca sebagai sekedar dampak hujan deras atau cuaca ekstrem semata.
Peristiwa yang menjangkau Kabupaten Lebong, Kepahiang, Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, Seluma, hingga Kota Bengkulu ini memperlihatkan sebuah pola yang jauh lebih serius krisis ekologis yang telah berlangsung lama dan kini meledak dalam bentuk bencana lintas wilayah.
Dari kawasan hulu hingga hilir, air meluap dengan cepat, merendam rumah-rumah warga, memutus akses jalan, melumpuhkan aktivitas ekonomi, merusak stok pangan rumah tangga, menghanyutkan bibit tanaman pertanian, dan memaksa masyarakat bertahan di tengah situasi darurat yang terus berulang.
Banjir yang terjadi di Provinsi Bengkulu terletak di titik-titik kabupaten dan Kota di Provinsi Bengkulu. Berikut data lapangan yang terhimpun oleh Walhi Bengkulu :
1.Kota Bengkulu, sedikitnya 698 Kepala Keluarga (KK) atau 2.792 jiwater dampak, dengan lebih dari 165 rumah terendam yang terverifikasi di beberapa titik utama, serta sedikitnya 2 fasilitas umum terdampak, yaitu sekolah dan masjid.
Kabupaten Seluma, data lapangan menunjukkan sedikitnya 835 KK atau 2.478 jiwa terdampak,dengan ratusan rumah warga di Kecamatan Talo, Semidang Alas Maras, Ulu Talo, Seluma Timur, dan Seluma Selatan mengalami genangan hingga lebih dari satu meter. Selain itu, tercatat 1 rumah rusak akibat longsor di Desa Kota Agung, SelumaTimur.
KabupatenLebong, banjir yang melanda Lebong Utara, Lebong Tengah, Uram Jaya, Pinang Belapis,Lebong Selatan dan Amen menyebabkan sedikitnya lebih dari 100 rumah terdampak, dengan kerusakan lanjutan berupa kendaraan warga rusak, stok beras terendam, dan bibit tanaman pertanian hanyut.
Bengkulu Tengah, banjir terpantau di Karang Tinggi, Pondok Kubang, dan Pondok Kelapa, dengan puluhan rumah warga terdampak banjir dan beberapa akses desa sempat terganggu.
Kepahiang, khususnya Kecamatan Seberang Musi genangan air merendam permukiman warga dan lahan pertanian,dengan belasan rumah terdampak awal berdasarkan laporan lapangan. Rejang Lebong, dampak cuaca ekstrem juga memicu puting beliung di Desa Sumber Urip, merusak rumah warga dan fasilitas permukiman.
Walhi Bengkulu menegaskan bahwa banjir ini bukanlah peristiwa alam yang berdiri sendiri, tapi kejadian ini merupakan konsekuensi langsung rusaknya bentangan alam Bengkulu akibat ekspansi industri ekstraktif, lemahnya perlindungan daerah aliran sungai, serta tata ruang yang gagal melindungi keselamatan rakyat.
Aktivitas pertambangan batu bara, perkebunan skala besar, dan berbagai bentuk konsesi di kawasan tangkapan air telah menghancurkan tutupan hutan, merusak struktur tanah, menghilangkan daya serap kawasan hulu, dan mempercepat limpasan air ke wilayah tengah dan hilir.
Tidak ada banjir tanpa kerusakan hulu, dan tidak ada kerusakan tanpa pelaku. Dalam konteks ini, korporasi yang beroperasi di bentang alam Bengkulu harus diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban secara hukum.
Namun tanggungjawab tidak berhenti pada korporasi. Negara, baik pemerintah daerah maupun pusat, juga tidak dapat bersembunyi dibalik narasi “bencana alam.” Risiko yang hari menenggelamkan rumah warga sesungguhnya diproduksi melalui keputusan politik
dan kebijakan ruang yang mengabaikan keselamatan ekologis.
Izin pertambangan dan perkebunan terus diterbitkan di wilayah sensitif, kawasan hutan dialihfungsikan,rawa dan daerah resapan menyusut, sementara tata ruang justru melegalkan pembangunan di kawasan banjir dan sempadan sungai.
Negara bukan sekadar gagal mencegah, tetapi dalam kasus justru menjadi fasilitator lahirnya risiko ekologis yang hari ini ditanggung rakyat. Karakter banjir yang terjadi kali ini memperlihatkan skala yang sangat luas, menjangkau wilayah hulu hingga hilir dalam waktu sepat dengan tinggi muka air di sejumlah lokasi mencapai lebih dari satu meter dalam hitungan ham.
Selain genangan di permukiman dan kerusakan infrastruktur, bencana turunan seperti longsor di Seluma Timur dan Puting Beliung di Rejang Lebong menegasjan bahwa daya dukung ekologis Provinsi Bengkulu berada dalam kondisi krtitis.
Dampak Akibat Banjir