Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Yogyakarta kembali menunjukkan taringnya sebagai kota kreatif. Kali ini lewat Selarasa Fest 2026, sebuah festival yang hadir bukan hanya untuk hiburan semata, tetapi juga menjadi ruang temu antara musik, budaya, dan cita rasa lokal. Festival ini digelar pada 26 Juni 2026 di Rocket Arena Godean dengan mengusung semangat Modernitas dan Tradisi dalam Satu Perayaan. Melalui konsep tersebut, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya Jawa tetap bisa dikemas secara kekinian tanpa kehilangan esensi aslinya.
Selarasa Fest diperkenalkan sebagai festival anyar yang memadukan musik koplo, tradisi lokal, serta pengalaman kuliner khas Yogyakarta. Nadia Firmansyah, Direktur Nagamas Ciptakarya, menegaskan bahwa festival ini lahir dari keinginan menghadirkan hiburan yang tetap berakar pada identitas budaya. Menurut Nadia, Selarasa Fest tidak hanya menghadirkan panggung musik, tetapi juga pengalaman yang mempertemukan budaya, rasa, dan kebersamaan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan nilai-nilai yang dimilikinya.
Sementara itu, Andre Widi, Ketua Penyelenggara Selarasa Fest 2026, menambahkan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang berkumpul bagi masyarakat, komunitas, pelaku UMKM, dan penikmat musik untuk merasakan pengalaman berbeda. Ia mengungkapkan keinginannya untuk menghadirkan festival yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membekas di hati pengunjung.
Deretan musisi yang tampil cukup beragam, mulai dari NDX AKA, GildcoustiK, Lavora, Ajeng Febria, Om Wawes, Bravesboy, hingga Teko Mlaku. Kehadiran mereka diyakini akan memberi warna berbeda di panggung hiburan Yogyakarta. Target pengunjungnya pun beragam, meliputi pelajar, mahasiswa, pekerja muda, hingga pecinta dangdut dan koplo. Dengan begitu, Selarasa Fest diharapkan menjadi magnet baru bagi berbagai kalangan pecinta festival.
Salah satu komitmen besar yang diusung festival ini adalah memberikan ruang lebih luas bagi pelaku UMKM lokal. Melalui program tenant gratis, panitia menggandeng berbagai pelaku usaha untuk ikut terlibat dan berkembang bersama. Dukungan promosi juga diberikan, baik melalui kanal digital maupun publikasi offline, sebagai bentuk nyata keberpihakan terhadap pertumbuhan usaha lokal. Hanung, salah satu panitia, menjelaskan bahwa pelaku usaha kelas menengah ke bawah sering kali belum sepenuhnya memanfaatkan media digital. Menurutnya, festival ini menjadi wadah untuk memperkenalkan produk mereka sekaligus memperkuat identitas budaya melalui kuliner lokal.
Selain musik, festival ini juga menghadirkan area kuliner bertajuk Pesta Jajanan Pasar. Area ini dirancang bukan sekadar tempat makan, melainkan sebagai ruang interaksi sosial yang memperkenalkan kekayaan kuliner lokal sekaligus memperkuat pengalaman festival yang lebih dekat dengan masyarakat. Kehadiran jajanan pasar di tengah festival musik modern menjadi simbol perpaduan tradisi dan modernitas yang menjadi ciri khas Selarasa Fest.
Strategi promosi festival diperkuat dengan kolaborasi bersama Key Opinion Leader atau KOL dan komunitas kreatif. Panitia menilai bahwa keterlibatan komunitas menjadi kunci untuk memperluas jangkauan festival sekaligus memperkuat identitasnya sebagai ruang kebersamaan. Dengan harga tiket sekitar Rp150.000, Selarasa Fest berambisi menghadirkan pengalaman yang terjangkau namun tetap berkualitas bagi masyarakat luas.
Dukungan tentunya datang dari H. Nurul Atik, Pemilik Rocket Chicken. Karena Festival ini juga menjadi kado spesial bagi nya yang genap berusia 60 tahun. Selaku penasehat Selarasa Fest, Nurul Atik sendiri mengungkapkan bahwa acara ini lahir dari keinginan untuk terus berkarya dan mendukung ekonomi kreatif. Ia menegaskan bahwa kawasan Rocket Arena memang dirancang sebagai ruang terbuka untuk kegiatan sosial dan budaya. Dengan kapasitas yang mampu menampung hingga 20 ribu orang, arena ini dinilai ideal untuk menggelar acara sebesar Selarasa Fest. Menurutnya, pengalaman panjang dalam menggelar berbagai kegiatan di kawasan ini menjadi modal penting untuk memastikan kelancaran festival.
Rangkaian acara Selarasa Fest 2026 tidak hanya berlangsung pada satu hari. Festival ini akan diramaikan dengan berbagai kegiatan sejak tanggal 19 hingga 27 Juni 2026, mulai dari konser musik, pertunjukan seni, battle tingkat nasional, hingga kegiatan keagamaan. Kehadiran tokoh-tokoh penting dan dukungan penuh dari berbagai pihak semakin menegaskan bahwa Selarasa Fest bukan sekadar agenda hiburan, melainkan sebuah gerakan budaya yang ingin meninggalkan jejak positif bagi masyarakat.
Dengan konsep yang menekankan kebersamaan, Selarasa Fest 2026 diharapkan mampu memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat kreativitas dan hiburan. Festival ini tidak hanya menghadirkan musik sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial, memperkuat identitas budaya, dan membuka peluang ekonomi kreatif. Selarasa Fest 2026 siap menjadi salah satu perhelatan budaya terbesar di Yogyakarta, merajut musik, kuliner, dan identitas masyarakat dalam satu panggung kebersamaan. Melalui kolaborasi lintas sektor, festival ini ingin meninggalkan kesan mendalam sekaligus memperlihatkan bahwa hiburan dapat menjadi ruang perayaan yang menyatukan tradisi dan modernitas.
Artikel Terkait
Ubud Food Festival 2026 Merayakan Petani dan Ikon Kuliner dari Indonesia dan Sekitarnya
IFG Ramaikan Jogja Financial Festival 2026, Dorong Literasi Keuangan dan Perlindungan Risiko Masyarakat
Indonesia Creative Cities Network Buka Open Submission Festival Kreatif 2026, Festival Lokal Diajak Masuk Jejaring Nasional
ICCN Luncurkan Indonesia Culture Festival, Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
390 Jemaah Haji Kloter 3 Embarkasi Padang, Sumbar Tiba di Bengkulu