Karnamereka Hadirkan “Nestapa di Penghujung Senja”, Pop Punk yang Merangkul Kesedihan  

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Kamis, 11 Juni 2026 | 23:54 WIB
Personil Karnamereka Her, Rolan dan Candra
Personil Karnamereka Her, Rolan dan Candra

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Grup pop punk asal Wates, Kulon Progo, Karnamereka kembali menorehkan jejak musikalnya dengan merilis single terbaru berjudul Nestapa di Penghujung Senja. Lagu ini resmi dipublikasikan pada Rabu, 3 Juni 2026 melalui berbagai platform digital streaming serta kanal YouTube resmi mereka. Karya terbaru ini menjadi penanda perjalanan panjang band yang telah berdiri sejak 2010, sekaligus menunjukkan evolusi musikal yang semakin matang.

Single ini diciptakan oleh Herida Bar’is Seto atau yang akrab disapa Hero Herda. Ia menuturkan bahwa lagu tersebut lahir dari refleksi atas fase kehidupan yang penuh tekanan dan kesedihan. “Lagu ini mengajak pendengar untuk menerima kesedihan, tidak berpura-pura kuat, serta tetap bersabar karena harapan dan kebahagiaan akan datang setelah masa-masa berat berlalu,” ungkapnya. Di balik nuansa sendu, Nestapa di Penghujung Senja justru menghadirkan pesan hangat: bahwa menangis bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang patut diterima.

Proses kreatif lagu ini tetap dilakukan secara mandiri. Hero Herda menulis lirik sekaligus merancang melodi dasar, lalu bersama Rolan dan Candra mendiskusikan aransemen yang paling tepat untuk menerjemahkan emosi. Rekaman dilakukan di studio dengan melibatkan ketiga personel, sementara proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Bayu Sensen di BMD Music Studio. “Kami bertiga sudah terbiasa merancang lagu dengan ritme kerja masing-masing. Ketika pola dasarnya sudah jadi, bentuk akhir lagunya biasanya cepat terbentuk saat kami bertemu di studio,” jelas Hero.

Secara musikal, Nestapa di Penghujung Senja melanjutkan warna medium beat yang sebelumnya mulai terasa dalam lagu Titik Nadir dan Di Persimpangan. Karnamereka yang dulu identik dengan energi cepat khas pop punk kini lebih nyaman mengeksplorasi tempo sedang. Menurut Candra, perubahan ini terjadi secara alami seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup. “Medium beat memberi ruang agar pendengar bisa lebih masuk ke cerita dan rasa yang ada di dalam lagu tanpa menghilangkan identitas pop punk yang sudah melekat di Karnamereka,” ujarnya. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa pop punk tetap menjadi fondasi utama. “Pop punk bukan sekadar tempo cepat atau distorsi gitar, tetapi tentang kejujuran, semangat, dan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tambah Rolan.

Dengan lagu ini, Karnamereka ingin menunjukkan bahwa pop punk tidak selalu harus hadir dengan ledakan energi. Justru keberanian untuk mengakui rasa lelah dan menerima kesedihan bisa menjadi pesan yang paling kuat. Hero Herda menekankan bahwa musik mereka adalah ruang untuk berdamai dengan diri sendiri, sekaligus mengingatkan pendengar bahwa harapan selalu ada setelah masa sulit.

Meski telah berkarya selama 15 tahun, Karnamereka masih menikmati proses merilis karya secara bertahap. Setelah meluncurkan album tahun lalu, mereka belum berencana menggarap album baru dalam waktu dekat. Namun, sejumlah kolaborasi dengan musisi lain tengah dipersiapkan, melanjutkan semangat kolaboratif yang sebelumnya pernah terjalin bersama Ndarboy Genk. “Kami percaya musik harus terus berkembang. Karena itu, kami tidak menutup diri terhadap eksplorasi dan kemungkinan-kemungkinan baru. Kami ingin terus bertumbuh sebagai musisi tanpa kehilangan identitas yang membuat Karnamereka dikenal hingga hari ini,” tegas Rolan.

Karnamereka sendiri terbentuk pada 2010 dan beranggotakan Hero Herda (vokal/gitar), Rolan Putut Wijaya (drum), serta Candra Setia Budi (bass). Selama perjalanan mereka, tiga album studio dan satu album live telah dirilis. Nama Karnamereka semakin dikenal secara nasional setelah lagu Ayah Ibu meledak pada 2022 dan viral di berbagai platform media sosial. Kini, dengan Nestapa di Penghujung Senja, mereka kembali menegaskan eksistensinya sebagai band pop punk yang mampu menghadirkan karya jujur, emosional, dan relevan dengan kehidupan banyak orang.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

24 Degrees dan Bara Rock yang Kembali Menyala

Jumat, 13 Februari 2026 | 17:10 WIB
X