OJK Bersama Kedutaan Australia dan Prospera Bangun Kemitraan Perkuat Climate Risk Management Sektor Perbankan Indonesia

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 5 Juli 2024 | 11:24 WIB


 

Jakarta, suarapembaruan.news - Otoritas Jasa Keuangan bersama Kedutaan Australia dan
Prospera (Australia Indonesia Partnership for Economic Development) terus
meningkatkan kemitraan untuk memperkuat climate risk management bagi industri
perbankan di Indonesia sebagai tindak lanjut penerbitan Panduan Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS) pada Maret 2024 lalu.


Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae
menyebutkan, kemitraan yang telah terjalin akan memperkuat hubungan antara Australia dan Indonesia dalam menghadapi
tantangan dan peluang risiko iklim di masa depan.


“Kami berharap kolaborasi ini akan memberikan hasil yang penting, sehingga perbankan akan dilengkapi dengan panduan dan data yang lebih baik mengenai
Climate Risk Management, sementara Indonesia akan mampu melakukan penilaian dampak iklim secara bank-wide dan mengembangkan kerangka peraturan untuk menilai risiko iklim,” kata Dian, dalam kegiatan
Kick-Off Ceremony: OJK –Prospera – Moody’s Cooperation on Climate Risk Management
Policy Development for Indonesian Banking Sector yang dilaksanakan secara hybrid di Jakarta, pada Jumat (28/6) lalu.

Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Indonesia Penny Williams, Direktur Prospera David Nellor, Managing Director and Head of Asia-Pasific
and Middle East of Moody’s Wael Jadallah, 18 bank peserta piloting CRMS di tahun 2024 dan berbagai pemangku kepentingan dari Kementerian/Lembaga antara lain
Badan Kebijakan Fiskal – Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian ESDM, BMKG dan BNPB.

 

Kerja sama ini akan berlangsung selama dua tahun dan meliputi enam cakupan utama, yakni Pengembangan panduan manajemen risiko iklim dengan data yang lebih rinci.


Pengembangan skenario climate risk stress test untuk Indonesia berdasarkan
Skenario Network for Greening the Financial System (NGFS) terbaru.

Pengembangan metodologi perhitungan dampak risiko iklim terhadap kinerja debitur bank baik untuk perusahaan besar maupun UMKM, serta dampak terhadap kinerja keuangan bank (bottom-up stress test).

Pengembangan data proyeksi risiko fisik maupun risiko transisi yang sesuai dengan kondisi di Indonesia hingga tahun 2100.

Perhitungan dampak risiko iklim terhadap kinerja industri perbankan dari sisi regulator (Climate Impact Assesment for Banking Industry Wide).

Penyelenggaraan capacity building untuk OJK dan Bank terkait pengembangan manajemen Risiko Iklim.


Outcome atas kerjasama tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kebijakan terkait risiko iklim di sektor perbankan ke depan untuk mengatasi tantangan
dalam pengembangan risiko iklim yang antara lain mencakup keterbatasan data emisi perhitungan dampak risiko iklim.


Selain itu, kerjasama ini diharapkan dapat mendukung perbankan untuk dapat mengembangkan, mengukur dan memitigasi dampak iklim, yang pada akhirnya diharapkan akan mendukung arah kebijakan transisi menuju Net Zero Emissions. *

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X