ekonomi-bisnis

Bursa Saham Bergejolak, Menko Airlangga Hartarto Nilai IHSG Masih Negatif, tapi Sudah dalam Tren Positif

Rabu, 9 April 2025 | 10:08 WIB
Menko Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto pada acara Sarasehan Ekonomi bersama Presiden Republik Indonesia di Jakarta, Selasa, 8 April 2025. (YouTube.com / Sekretariat Kabinet)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Menko Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto mengakui kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja, termasuk dalam bursa saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk salah satu yang terdampak.Baca Juga: Prabowo Minta Kuota Impor Tak Diskriminatif dan Hanya Untungkan Segelintir Orang

Pada Selasa, 8 April 2025 pukul 09.00 WIB, IHSG Bursa Efek Indonesia itu tercatat melemah 596,33 poin atau 9,16 persen ke posisi 5.914,28.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 92,61 poin atau 11,25 persen ke posisi 651,90.Baca Juga: ASN Pemkot Bengkulu Berprestasi Dijanjikan Wali Kota Umroh dan Karier Bagus

Terkait harga pasar saham anjlok, Airlangga justru menyebut IHSG sudah dalam tren positif.

"Dunia sedang tidak baik-baik saja, kita lihat indikator pasar keuangan masih berfluktuasi," tutur Airlangga saat Sarasehan Ekonomi di Jakarta, pada Selasa, 8 April 2025.Baca Juga: Ahmad Luthfi Intens Bangun Soliditas dengan Bupati/Walikota untuk Percepat Pembangunan

"IHSG masih negatif, tadi pagi negatif namun sudah berada pada trend positif, sudah naik," tambahnya.

Di sisi lain, Airlangga menuturkan nilai tukar rupiah juga relatif terjaga. Begitu pula terkait cadangan devisa dan obligasi.Baca Juga: Pemprov Jateng Tata Ulang OPD untuk Maksimalkan Pelayanan Masyarakat

Airlangga menyoroti, kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menjadi salah satu yang mempengaruhi kondisi tersebut.

Menko Perekonomian RI itu menyebut gebrakan Trump membuat ketidakpastian global melonjak, namun dirinya mengklaim RI masih dalam kondisi yang baik.Baca Juga: Jateng Antisipasi Dampak Kenaikkan Tarif Resiprokal Amerika Serikat

"Nah ini akibat kebijakan (Trump) tersebut, probability risk resesi juga meningkat. Namun Indonesia masih relatif rendah di 5 persen," tungkas Airlangga.*

Tags

Terkini