Kolaborasi Baterai Listrik Indonesia-Tiongkok: SDA Melimpah, Teknologi dari Negeri Tirai Bambu

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 30 Juni 2025 | 14:30 WIB
 Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka acara Human Capital Summit 2025. (Instagram/bahlillahadalia)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka acara Human Capital Summit 2025. (Instagram/bahlillahadalia)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Indonesia menjalin kemitraan strategis dengan Tiongkok dalam proyek pembangunan ekosistem baterai listrik terintegrasi. Nilai investasi proyek ini mencapai 5,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp95,43 triliun.

Dalam kerja sama ini, perusahaan dalam negeri seperti ANTAM dan konsorsium BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC) bersinergi dengan konsorsium perusahaan asal Tiongkok yakni CATL, Brunp, dan Lygend (CBL).

Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa inisiatif ini mencerminkan bentuk kolaborasi saling mengisi antara negara yang kaya sumber daya alam dan negara yang menguasai teknologi serta pasar global.

“Gagasan kolaborasi ini lahir dari kesadaran bahwa kita butuh sinergi. Indonesia memiliki kekayaan bahan baku, sementara Tiongkok unggul dalam teknologi dan pengembangan pasar,” ujarnya dalam sambutannya saat seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat, Minggu, 29 Juni 2025.

Bahlil memaparkan bahwa Indonesia memiliki cadangan besar nikel, mangan, dan kobalt yang merupakan komponen utama baterai, meskipun lithium masih belum tersedia secara lokal.

“Kita punya hampir semua bahan utama baterai, kecuali lithium. Tapi untuk teknologi pengolahan, kita masih belum sepenuhnya mumpuni. Maka dari itu, kerja sama ini menjadi penting,” tambahnya.

Ia juga menyoroti bahwa CATL, salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia, kini menjadi mitra aktif dalam proyek ini.

Proyek tersebut ditargetkan dapat memproduksi baterai listrik dengan total kapasitas hingga 15 gigawatt-hour (GWh), dengan tahap pertama sebesar 6,9 GWh ditarget rampung pada 2026.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X