bung-sth-bicara

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Setelah lulus sebagai sarjana sejarah dari universitas Polandia, ia bergabung dengan Agencja Prasowa Polska (Polish Press Agency, PAP) pada akhir 1950-an. Tugas awalnya adalah menulis laporan dan berita standar, tetapi ia mulai mencari cara untuk menceritakan kisah manusia di balik berita. Ketertarikan Kapuściński pada jurnalistik muncul dari kombinasi pendidikan sejarah, rasa ingin tahu tentang manusia, dan pengalaman awal di kantor berita Polandia.Baca Juga: Perhatian Pemprov Bengkulu, Tenaga Pendidik, Guru PPPK Paruh Waktu Terima Gaji dan BPJS

Pada awal 1960-an, Kapuściński dikirim ke Afrika dan negara-negara berkembang sebagai koresponden luar negeri. Pengalaman ini menjadi titik balik: ia melihat dampak kolonialisme, kemiskinan, dan konflik dari dekat, dan mulai menulis dengan gaya naratif, reflektif, dan humanis, bukan sekadar laporan fakta. Penugasannya ke luar negeri ini kemudian membentuk gaya uniknya: wartawan yang menulis dengan mata hati, bukan hanya pena dan kamera.


“If we write about human beings, in the most humanly way we are able to, I think everybody will understand us. I find humanity as one family. People really are very much the same in their reactions, in their feelings… Writing for one man, you write for everybody.”Baca Juga: Gubernur Bengkulu Helmi Hasan Temui KDM Salurkan Bantuan Untuk Masyarakat Korban Bencana Bandung Barat

“Jika kita menulis tentang manusia, dengan cara yang paling manusiawi yang mampu kita lakukan, saya pikir semua orang akan memahami kita. Saya memandang umat manusia sebagai satu keluarga. Pada dasarnya orang-orang sangat mirip dalam reaksi dan perasaan mereka… Ketika kita menulis untuk satu orang, sesungguhnya kita menulis untuk semua orang,” ungkap Kapuściński, di salah satu bukunya.

Pandangannya tentang penderitaan akibat perang dituliskannya, “I thought about the terrible uselessness of suffering… If one were to collect the energy of suffering emitted by the millions of people… and transform it into the power of creation, one could turn our planet into a flowering garden.”

“Aku memikirkan betapa mengerikannya kesia-siaan penderitaan… Seandainya energi penderitaan yang dipancarkan oleh jutaan manusia dapat dikumpulkan dan diubah menjadi kekuatan penciptaan, niscaya kita bisa mengubah planet ini menjadi taman yang berbunga.”Baca Juga: Gubernur Jatim Takjub, Murid SMKN1 Buduran, Praktik Bekerja Layaknya Industri Profesional


“The world looks different and is understood differently at every spot on earth. Without accepting this simple truth it is hard for us to grasp the behavior of others…”

“Dunia terlihat berbeda dan dipahami secara berbeda di setiap sudut bumi. Tanpa menerima kebenaran sederhana ini, akan sulit bagi kita untuk memahami perilaku orang lain…”Baca Juga: Tingkatkan Layanan dan Daya Tarik Investasi, Pemprov Bengkulu Dukung Pengembangan Informasi Awak BPKP

Dalam bukunya, The Shadow of the Sun, dia memberi pesan kemanusiaan yang menyentuh hati. “To write about Africa one must first learn to see people as people, not as problems or statistics. Every face, every gesture, every word tells a story of hope or despair.”

“Untuk menulis tentang Afrika, seseorang harus belajar melihat manusia sebagai manusia, bukan sekadar masalah atau statistik. Setiap wajah, setiap gerak, setiap kata menceritakan kisah harapan atau keputusasaan.”Baca Juga: BI dan Pemprov Bengkulu Perkuat Sinergi Percepat Investasi Daerah Lewat BIG RIRU 2026

Di buku itu, dia melanjutkan, “I never wrote about events alone. I wrote about people caught in events, because without them history is meaningless.”

“Aku tidak pernah menulis tentang peristiwa saja. Aku menulis tentang manusia yang terjebak dalam peristiwa, karena tanpa mereka sejarah tidak bermakna.”
Dari bukunya, Another Day of Life, dia menulis, “War is measured in the numbers of the dead, but for the living it is measured in fear, hunger, and the daily fight to survive.”Baca Juga: Pemprov dan BI Bengkulu Luncurkan Samling Pembayaran Pajak Digital Lewat QRIS

“Perang diukur dari jumlah orang yang mati, tetapi bagi yang hidup, perang diukur dari rasa takut, kelaparan, dan perjuangan sehari-hari untuk bertahan hidup.”

Dari Ryszard Kapuściński, kita – wartawan – belajar tentang arti sejati dari profesi luhur kita, yang tidak hanya tentang keterampilan teknis “mencari, menulis dan menyiarkan informasi” semata, melainkan menjadikan jurnalisme sebagai “praktik kemanusiaan”.Baca Juga: High Level Meeting TP2DD se-Provinsi Bengkulu, Wagub Mian Ajak Kepala Daerah Melek Digital


Menjadi “manusia yang baik, seperti disampaikan Ryszard Kapuściński, juga tercermin dalam integritas. Wartawan sejati menolak manipulasi fakta, tekanan kekuasaan, dan godaan kepentingan pribadi. Ia setia pada kebenaran meskipun kebenaran itu tidak populer atau berisiko. Tanpa karakter yang baik, jurnalisme mudah tergelincir menjadi propaganda, hiburan kosong, atau alat penindasan.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB