Media sosial dan masyarakat global pun terpecah: sebagian mengutuk keras, namun lebih banyak yang memilih membalik layar, merasa topik ini terlalu "kotor" untuk dibicarakan. Mereka lupa, di balik setiap video menjijikkan yang beredar, ada trauma yang mungkin tak pernah bisa pulih, ada perempuan yang kehilangan harga dirinya, dan ada generasi yang belajar bahwa tubuh manusia bisa dihargai seperti komoditas pasar gelap.
Maria bukan hanya korban pesta menjijikkan. Ia adalah simbol dari generasi perempuan yang dibentuk oleh ekonomi eksploitatif, media sosial yang menormalisasi seksualitas ekstrem, dan dunia yang lebih peduli pada citra ketimbang realita. Ia bisa saja adik kita, teman kita, atau anak dari seorang ibu yang menaruh harapan besar pada masa depan putrinya.Baca Juga: SIWO PWI Anugerahi Zainal Paliwang Penghargaan 'Good Governance'
Kita tidak boleh melihat kasus ini hanya sebagai kisah aneh dari dunia selebritas media sosial. Ini adalah refleksi brutal dari bagaimana dunia memperlakukan perempuan yang tidak memiliki privilese. Dan betapa mudahnya kita membungkam suara-suara mereka atas nama hiburan, gosip, atau sensasi.
Porta Potty Party Dubai bukan sekadar pesta. Ia adalah lambang kemunduran moral global. Dan selama kita terus menormalisasi budaya “asal ada persetujuan maka semuanya sah”, kita sedang ikut menciptakan dunia di mana manusia kehilangan nilainya, dan kekuasaan menjadi alat untuk menyiksa.Baca Juga: Menulis untuk Menyala: Puisi dan Transformasi di MTs Al-Burhan
Kita memerlukan sistem hukum internasional yang mampu menyentuh tindakan-tindakan yang melampaui batas martabat. Kita membutuhkan media yang berani menyuarakan hal-hal sulit. Tapi yang lebih penting, kita butuh masyarakat global yang tidak lagi memalingkan wajah dari ketidakadilan, betapapun menjijikkannya.*
BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.