Surabaya, SUARA PEMBARUAN – Sebanyak 50 peserta Reuni IX dan Dolan Bareng Paguyuban Alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (PASMAN) 75 Jember, kagum, melihat ikon legendaris Tunjungan Romansa Surabaya.
Kawasan ini telah berubah menjadi pusat kuliner modern dan menyuguhkan spot-spot foto menarik tempo doeloe .
“Tunjungan Romansa, layak menjadi jujugan bagi wisatawan, setelah menjelma kembali menjadi ikon legendaris Tunjungan,” ujar Andy Partiko Widodo, salah satu tokoh pendiri PASMAN 75.
Berdasarkan catatan sejarah. Pada 1920 sampai 1930 an, Tunjungan merupakan pusat perdagangan. Banyak toko-toko berkelas dunia berdiri di sana.
Daerah ini tumbuh menjadi kawasan elit dengan gaya hidup ala eropa.
Sampai era 1970-an, kawasan tersebut masih berjaya. Bahkan musisi asal Tegal, Jawa Tengah, yang juga dedengkot Favourite’s Grup, Is Haryanto, terkesan dengan suasana Tunjungan.
Ia kemudian menciptakan lagu legendaris Rek Ayo Rek. Lagu yang hits di era ini dibawakan oleh Mus Mulyadi, Arek Suroboyo, yang lahir pada 14 Agustus 1945.
Kejayaan Tunjungan sempat meredup, tinggal nama besar pada zamannya. Melihat Tunjungan seperti itu, Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, yang asli Surabaya, terpanggil untuk mengembalikan nama besar kawasan ini.
Tunjungan kemudian direvitalisasi sejak 2021. Perlahan tapi pasti, trotoar diperluas, gedung-gedung yang sudah ada sejak Zaman Belanda, dirapikan dengan tidak merubah arsitekturnya.
Bangunan tua peninggalan Belanda nan klasik, dipadukan dengan gemerlapnya lampu warna warni, terutama malam hari, mengingatkan kita seakan sedang berada di Eropa.
Hotel Oranje, kini Hotel Majapahit, yang menjadi saksi perobekan bendera Belanda, khusus warna birunya, sehingga tinggal merah putih, bendera Indonesia, diminati pengunjung untuk foto, termasuk toko Siola, yang kondang dizamannya. Siola saat ini menjadi pusat layanan publik Pemkot Surabaya.
Hidupkan Kembali Tunjungan
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, melarang parkir sepanjang kawasan ini, agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas.
Para seniman, musisi jalanan, pelukis dan kreator apa saja, diberikan tempat untuk unjuk kreativitasnya, memberi daya tarik bagi pengunjung.
Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner dan kerajinan khas Surabaya, juga dilibatkan, untuk menghidupkan kembali Tunjungan.
Aneka masakan tradisional tersedia. Diantaranya rujak cingur, lontong balap, gado-gado, rawon. Untuk jenis jajanan, ada tahu walik, bakso tahu, risol, siomay. Sedangkan masakan internasional tersedia burger, pizza, bubur goreng, masakan ala Korea dan Vietnam.