Way Kanan, SUARA PEMBARUAN – Jagat media sosial dihebohkan oleh sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu menangis sambil mencurahkan isi hatinya mengenai sang anak yang diduga terlilit utang akibat judi online. Peristiwa ini diketahui terjadi di Desa Serupa Indah, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, Lampung.
Video tersebut diunggah melalui akun TikTok pribadi @mama.chandra687 pada Senin (13/4/2026) dan dengan cepat menarik perhatian publik. Dalam tayangan itu, sang ibu tampak menahan tangis sambil menunjukkan sejumlah uang yang disebut sebagai upaya untuk melunasi utang anaknya.
“Ini uang seadanya, tidak cukup untuk melunasi utang kamu,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.
Utang Membengkak dari Rp10 Juta Menjadi Rp19 Juta
Dalam penuturannya, ibu tersebut menjelaskan bahwa awalnya sang anak hanya memiliki utang sebesar Rp10 juta. Namun, seiring waktu, jumlah tersebut meningkat drastis hingga mencapai Rp19 juta. Ia menduga utang tersebut digunakan untuk bermain judi online jenis slot.
“Awalnya utang kamu Rp10 juta, kini membengkak jadi Rp19 juta. Utang sebanyak itu untuk apa? Untuk main slot, kan?” ungkapnya dengan nada sedih.
Situasi semakin memprihatinkan karena sang anak dilaporkan telah meninggalkan rumah, sementara pihak pemberi pinjaman terus menagih pelunasan utang. Hal ini membuat sang ibu merasa cemas sekaligus terbebani secara emosional dan finansial.
Ia juga menyampaikan bahwa uang yang ditunjukkan dalam video merupakan hasil jerih payahnya yang akan digunakan untuk membayar sebagian utang tersebut. “Uang ini milik ibumu, dan uang ini untuk membayar utang slot,” tuturnya.
Melalui video tersebut, sang ibu berharap anaknya dapat menonton dan menyadari dampak dari perbuatannya. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga menyakiti keluarga yang harus menanggung akibatnya.
“Kamu kok tega, Nak. Saya harap kamu sadar dan tidak mengulanginya lagi. Kalau kamu sampai mengulanginya lagi, saya tidak akan mau menanggung akibatnya,” tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan harapan penuh haru, “Semoga kamu lihat video ini, semoga kamu sadar, Nak.” *