Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Event Ukhuwah Terbesar di Yogyakarta kembali hadir pada tahun 2026 dengan mengusung tema Padhang Bulan. Tema tersebut secara resmi diluncurkan dalam acara Launching dan Jumpa Media yang diselenggarakan pada Selasa, 21 Juli 2026 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, serta dihadiri oleh puluhan insan media, perwakilan komunitas dakwah, pengurus masjid, lembaga sosial, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan berbagai elemen masyarakat.
Mengusung filosofi Jawa yang kaya akan makna, Padhang Bulan menjadi kelanjutan perjalanan tema-tema besar yang telah menginspirasi ribuan jamaah setiap tahunnya, mulai dari Ojo Leren Dadi Wong Apik pada tahun 2022, Urip Iku Urup pada tahun 2023, Wang Sinawang pada tahun 2024, hingga Lir Ilir pada tahun 2025. Seluruh tema tersebut berangkat dari kearifan budaya Nusantara yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam sebagai media dakwah yang membumi. Rekam jejak penyelenggaraan selama empat tahun terakhir menjadikan event ini sebagai salah satu agenda ukhuwah terbesar di Yogyakarta. Pada penyelenggaraan Lir Ilir Fest 2025, acara berhasil menghadirkan lebih dari 23.000 jamaah dengan jangkauan media sosial mencapai jutaan orang, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi penyelenggaraan Festival Padhang Bulan 2026 yang diproyeksikan menjangkau lebih dari 30.000 peserta dengan potensi jangkauan digital mencapai lebih dari 50 juta orang melalui ekosistem media dakwah nasional.
Tema Padhang Bulan diangkat dari falsafah Jawa sekaligus melanjutkan perjalanan makna yang terkandung dalam tembang Lir-ilir, mahakarya dakwah Wali Songo yang selama berabad-abad menjadi media penyebaran Islam melalui pendekatan budaya. Salah satu bait yang paling dikenal berbunyi "Mumpung padhang rembulane" yang berarti selagi bulan masih bersinar terang. Dalam budaya Jawa, padhang bulan bukan sekadar malam yang diterangi cahaya rembulan, melainkan simbol ketika jalan yang semula samar menjadi terlihat, ketika hati yang gelisah menemukan arah, dan ketika manusia mampu melihat dirinya dengan lebih jernih. Dalam perspektif Islam, cahaya menjadi lambang petunjuk Allah SWT, sehingga Padhang Bulan dimaknai sebagai simbol pencerahan rohani, pembersihan jiwa, tumbuhnya cahaya keimanan, serta kesadaran manusia terhadap tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Dahulu, masyarakat Jawa memanfaatkan malam terang bulan sebagai waktu berkumpul, bersilaturahmi, bertukar hikmah, mempererat persaudaraan, dan menguatkan kebersamaan, dan nilai-nilai itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui Festival Padhang Bulan sebagai ruang perjumpaan umat, tempat ilmu menerangi akal, dzikir menenangkan hati, dan ukhuwah menghangatkan jiwa.
Safari Dakwah Padhang Bulan insyaallah akan dimulai dari tanggal 18 September 2026 dan berakhir pada hari Ahad, 20 September 2026. Safari Dakwah meliputi enam kota, yaitu Jogjakarta, Muntilan, Magelang, Karanganyar, Solo, dan Klaten. Adapun agenda dan jadwal Safari Dakwah Padhang Bulan adalah pada Jumat, 18 September 2026 bertempat di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia Jogjakarta dan Masjid Jogokariyan Jogjakarta, pada Sabtu, 19 September 2026 bertempat di Pondok Pesantren Merapi Merbabu Magelang, Majelis Salima Muntilan, dan Masjid Agung Madaniyah Karanganyar, serta pada Ahad, 20 September 2026 bertempat di Hotel Grand Mercure Solo, Guru Ngaji Berdaya Klaten, dan Jogja Expo Center sebagai puncak acara. Puncak Padhang Bulan Fest 2026 akan diselenggarakan pada hari Sabtu hingga Ahad, 19 hingga 20 September 2026, mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WIB, bertempat di Jogja Expo Center Yogyakarta.
Panitia merencanakan kehadiran sejumlah ulama dan tokoh nasional yang inspiratif, di antaranya Ustadz Abdul Somad, Ustadz Salim A. Fillah, Ustadz Luqmanulhakim, Anies Rasyid Baswedan, Gus Kautsar, Ustadz Rifky Ja'far Tholib, Ustadz Handy Bonny, Ustadz Muhammad Faizar, Gus Ajir Ubaidillah, Agam Fachrul, Mukmin selaku Juara SUCI 12 Stand Up Comedy, Ustadz Muhammad Husein Gaza, Ustadz Amar Risalah, Naura Jingga dan Naufal, Indadari, Ustadz Hammad Rosyadi, Habib Isa Al Kaff, Habib Ali Al Kaff, serta Sabrang Noe dan LETTO, dengan daftar narasumber yang masih menyesuaikan konfirmasi akhir dari masing-masing tokoh.
Ketua Umum Panitia, Kang M. Akhid Subiyanto, menegaskan bahwa Padhang Bulan bukan sekadar festival dakwah, melainkan sebuah gerakan kolaborasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ia mengundang seluruh komunitas dakwah, pengurus masjid, majelis taklim, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, pelaku usaha, media, hingga seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan menyukseskan Padhang Bulan, karena dakwah yang besar lahir dari semangat kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri, dengan harapan Padhang Bulan menjadi rumah bersama tempat ukhuwah tumbuh semakin kuat, ilmu semakin tersebar, dan manfaatnya semakin luas untuk umat. Dukungan juga disampaikan oleh Ustadz Salim A. Fillah yang mengajak seluruh masyarakat menjadikan Festival Padhang Bulan sebagai momentum mempererat persaudaraan, karena ukhuwah adalah nikmat yang harus terus dirawat dan Padhang Bulan bukan hanya milik panitia atau para narasumber, tetapi milik seluruh umat, sehingga mari hadir, mengajak keluarga, sahabat, jamaah, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menyemarakkan acara ini, semoga Allah menjadikannya wasilah untuk menguatkan persaudaraan, memperluas keberkahan, dan menghadirkan cahaya hidayah di tengah kehidupan.
Festival Padhang Bulan bukan sekadar kajian akbar, melainkan sebuah ruang perjumpaan umat yang mempertemukan ribuan jamaah, ulama, tokoh bangsa, komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan gerakan sosial dalam satu semangat membangun peradaban. Bagi komunitas dakwah, pengurus masjid, dan majelis taklim, Padhang Bulan menjadi momentum memperluas jejaring, mempererat sinergi, saling menguatkan program dakwah, serta menunjukkan bahwa persatuan umat lahir dari kolaborasi. Bagi lembaga pendidikan, festival ini menjadi ruang belajar yang hidup bagi pelajar, mahasiswa, guru, dan keluarga untuk bertemu langsung dengan para ulama dan tokoh inspiratif, sekaligus menanamkan nilai karakter, kepemimpinan, dan semangat kebermanfaatan. Bagi pelaku usaha, UMKM, dan perusahaan, Festival Padhang Bulan menghadirkan peluang strategis untuk menjadi bagian dari gerakan sosial yang berdampak luas, selain memperoleh eksposur kepada puluhan ribu peserta dan jutaan audiens digital, perusahaan juga dapat memperkuat citra sebagai brand yang berkontribusi dalam membangun ekosistem dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, dan berdasarkan capaian tahun sebelumnya, ekosistem media acara menjangkau jutaan audiens melalui jaringan akun dakwah nasional yang memiliki basis pengikut organik dan loyal. Sementara bagi masyarakat umum, Padhang Bulan menjadi kesempatan untuk memperoleh ilmu, mempererat silaturahmi, menikmati suasana festival Islami yang edukatif dan inspiratif, sekaligus mengajak seluruh anggota keluarga merasakan semangat kebersamaan dalam suasana yang penuh keberkahan. Panitia berharap setiap orang yang hadir tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama yang menghadirkan cahaya kebaikan bagi masyarakat.
Selain menghadirkan kajian akbar, Festival Padhang Bulan juga akan menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, pameran, tenant produk halal, ruang kolaborasi komunitas, bazar UMKM, hingga berbagai gerakan sosial. Panitia mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi dengan menghadiri acara bersama keluarga dan komunitas, mengajak jamaah masjid, majelis taklim, sekolah, kampus, dan organisasi mengikuti kegiatan, menyebarluaskan informasi sebagai bagian dari dakwah digital, serta menjadi mitra kolaborasi, sponsor, media partner, maupun membuka booth dan tenant pameran. Melalui semangat Mumpung Padhang Rembulane, panitia berharap masyarakat memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak ilmu, memperkuat persaudaraan, serta bersama-sama menyalakan cahaya kebaikan di tengah kehidupan. Sebagaimana cahaya rembulan yang menerangi malam tanpa menyilaukan, Festival Padhang Bulan 2026 mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadi cahaya yang menghangatkan, menyatukan, dan menguatkan ukhuwah umat.
Artikel Terkait
JK: Ukhuwah Harus Melahirkan Kemajuan Ilmu, Teknologi, dan Kemakmuran
Pajak Pencairan BPJS Ketenagakerjaan Pertanyaan Lama Yang Masih Dinanti Jawabannya Buruh dan Akademisi Desak Evaluasi Aturan JHT
Sekolah Rakyat Hadir di Bengkulu, Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan
Lantik Pengurus PMI Bengkulu, JK Tekankan Peran Kemanusiaan Tanpa Batas
E-PBBKB Hadir, Pemprov Bengkulu Optimalkan Pengelolaan Pajak Daerah Secara Digital