UMKM Menjerit Akibat Mati Listrik Mendadak, Adonan Roti Terbuang dan Produksi Lumpuh

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:33 WIB
Curhatan viral pengusaha UMKM roti yang gagal jualan karena kendala pemadaman listrik tanpa pemberitahuan dari PLN. (Threads/safirayundap - nadyafrahman_)
Curhatan viral pengusaha UMKM roti yang gagal jualan karena kendala pemadaman listrik tanpa pemberitahuan dari PLN. (Threads/safirayundap - nadyafrahman_)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Gelombang keluhan terhadap pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah kembali mencuat di media sosial. Kali ini, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengaku mengalami kerugian akibat padamnya listrik yang disebut berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Sejumlah pengusaha kuliner membagikan pengalaman mereka yang harus menanggung kerugian karena proses produksi terhenti di tengah jalan. Mulai dari adonan yang gagal diolah hingga bahan baku yang terpaksa dibuang karena tidak lagi layak digunakan.

Salah satu keluhan datang dari akun Threads @safirayundap yang memperlihatkan proses produksi roti tawar di tempat usahanya. Dalam video yang diunggah, terlihat adonan yang telah siap dipanggang harus tertunda karena listrik tiba-tiba padam saat proses produksi berlangsung.

Pemilik usaha tersebut mengaku kesulitan melanjutkan produksi karena seluruh peralatan bergantung pada pasokan listrik. Kondisi itu membuat adonan gagal diproses secara optimal dan berpotensi tidak dapat dijual kepada pelanggan.

Keluhan serupa disampaikan akun @raniazli_ yang mengaku harus menutup operasional tokonya selama satu hari penuh. Menurutnya, pemadaman listrik menyebabkan bahan baku yang sedang dalam proses fermentasi mengalami over proofing sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Selain itu, sejumlah bahan yang memerlukan suhu dingin, seperti mentega dan es, juga dilaporkan mencair akibat terhentinya pasokan listrik dalam waktu yang cukup lama.

Kerugian yang lebih besar diungkapkan oleh akun Threads @nadyafrahman_. Ia menyebut harus membuang sekitar 16 kilogram adonan tepung karena proses produksi tidak dapat dilanjutkan setelah listrik padam secara mendadak.

Menurutnya, situasi tersebut sangat disayangkan karena sebelumnya sempat ada informasi mengenai potensi pemadaman listrik yang justru tidak terjadi. Namun ketika pemadaman benar-benar berlangsung, tidak ada pemberitahuan yang diterima sehingga pelaku usaha tidak memiliki waktu untuk melakukan antisipasi.

Viralnya berbagai keluhan tersebut memicu diskusi di kalangan warganet mengenai tanggung jawab penyedia layanan listrik terhadap kerugian yang dialami pelanggan, khususnya pelaku UMKM yang sangat bergantung pada pasokan listrik untuk kegiatan produksi.

Banyak pengguna media sosial mempertanyakan kemungkinan adanya kompensasi bagi pelanggan yang terdampak pemadaman tanpa pemberitahuan. Mereka menilai gangguan listrik tidak hanya menghambat aktivitas usaha, tetapi juga berpotensi mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan.

Beberapa pelaku UMKM mengungkapkan bahwa kerugian akibat kegagalan produksi dapat berdampak langsung pada arus kas usaha yang sebagian besar masih mengandalkan modal terbatas. Kondisi tersebut dinilai berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki sumber daya cadangan lebih memadai.

Di tengah ramainya perbincangan, sejumlah warganet juga mendorong adanya kejelasan mekanisme pengaduan dan pertanggungjawaban apabila pemadaman listrik mengakibatkan kerusakan produk maupun kerugian usaha.

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya komunikasi yang cepat dan transparan terkait jadwal maupun penyebab gangguan listrik. Bagi pelaku UMKM, informasi yang disampaikan lebih awal dinilai sangat penting agar mereka dapat menyesuaikan jadwal produksi dan meminimalkan potensi kerugian yang timbul akibat pemadaman listrik.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X