Chat Ortu Mahasiswa FH UI Viral, Diduga Bela Anak agar Lolos dari Sanksi DO

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 16 April 2026 | 18:04 WIB
Menyoroti viralnya dugaan grup chat orang tua mahasiswa FH UI usai anaknya terjerat kasus pelecehan. (instagram.com/@cretivox)
Menyoroti viralnya dugaan grup chat orang tua mahasiswa FH UI usai anaknya terjerat kasus pelecehan. (instagram.com/@cretivox)

 

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Beredarnya tangkapan layar percakapan grup daring yang diduga melibatkan para orang tua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) memicu perhatian publik. Percakapan tersebut muncul setelah 16 mahasiswa FH UI terungkap dalam kasus dugaan pelecehan seksual yang dibahas dalam sidang internal kampus pada Selasa, 14 April 2026.

Unggahan dari akun Instagram @creativox pada Rabu, 15 April 2026, menyebutkan bahwa diskusi dalam grup tersebut memperlihatkan respons sejumlah orang tua yang dinilai cenderung membela anak-anak mereka. Bahkan, terdapat indikasi upaya untuk memengaruhi proses penanganan kasus agar tidak berujung pada sanksi berat.

Narasi yang beredar juga menyoroti peran keluarga dalam mendidik anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Dukungan dari orang tua seharusnya tidak menghambat proses keadilan, melainkan mendorong penyelesaian yang transparan, berpihak kepada korban, serta memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang.

Sejumlah isi percakapan yang tersebar menunjukkan kecenderungan menyalahkan pihak yang pertama kali mengungkap kasus tersebut ke publik. Beberapa anggota grup menilai bahwa penyebaran informasi ke ranah publik tidak bijaksana karena berdampak pada reputasi mahasiswa dan keluarga.

“Andai saja penyebar lebih bijak dan tidak langsung mempublikasikan kasus ini,” tulis salah satu pesan. Pesan lainnya menyebut bahwa penyebaran informasi membuat situasi menjadi tidak terkendali dan menyeret banyak pihak dalam dampak negatif.

Selain itu, perhatian publik juga tertuju pada permintaan beberapa orang tua agar kampus tidak menjatuhkan sanksi berat, khususnya Drop Out (DO), terhadap mahasiswa yang terlibat. Mereka berharap pihak universitas mempertimbangkan masa depan anak-anak mereka dan memilih pendekatan pembinaan.

“Mohon kebijaksanaan kampus agar anak-anak ini tidak di-DO, kasihan masa depan mereka,” demikian salah satu isi percakapan. Ada pula yang berpendapat bahwa kesalahan tersebut sebaiknya disikapi dengan pembinaan karena para mahasiswa masih muda dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai keaslian tangkapan layar percakapan tersebut maupun sikap institusi terhadap isu yang beredar.*

 

 

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X