politik-hankam

Usai Aksi Gejayan, Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Mobil, Sebut Bentuk Teror

Minggu, 14 Juni 2026 | 18:30 WIB
Menyoroti kronologi mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto diduga kena sasaran teror usai menemukan alat pelacak yang menempel di mobilnya. (Instagram.com/@tiyoardianto_)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku menemukan sebuah alat pelacak yang menempel di kolong mobil pribadinya seusai mengikuti aksi massa “Rakyat Memanggil” di kawasan Gejayan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).

Peristiwa tersebut menjadi sorotan publik setelah video penemuan perangkat itu beredar luas di media sosial. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Minggu (14/6/2026), Tiyo menceritakan bahwa awalnya ia menerima notifikasi mencurigakan dari telepon genggamnya yang mengindikasikan keberadaan alat pelacak di sekitar dirinya.

“Saya habis pulang dari aksi Gejayan, tiba-tiba HP berdering dan memberikan peringatan adanya alat pelacak,” ujar Tiyo dalam video yang diunggahnya.

Mendapat peringatan tersebut, Tiyo bersama sejumlah rekannya langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kendaraan yang digunakan. Setelah mengecek beberapa bagian mobil, mereka menemukan sebuah perangkat yang menempel di bagian bawah kendaraan menggunakan magnet.

“Lalu saya dan kawan-kawan langsung periksa mobil satu per satu. Ternyata benar, alat itu ditemukan menempel di bawah mobil,” katanya.

Penemuan perangkat tersebut membuat Tiyo menduga dirinya menjadi sasaran pengawasan dan intimidasi. Menurutnya, keberadaan alat pelacak itu tidak dapat dianggap sebagai kejadian biasa.

“Ini bukan hal yang normal. Saya melihatnya sebagai bentuk teror dan intimidasi yang nyata,” tegasnya.

Aktivis yang selama ini dikenal vokal menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan publik itu menilai tindakan tersebut bertujuan untuk menekan dan membungkam suara kritis masyarakat.

“Kami menyampaikan aspirasi secara damai dan mengkritik kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Namun justru muncul kejadian seperti ini,” ujarnya.

Tiyo menduga ada pihak tertentu yang sengaja memasang alat tersebut untuk menimbulkan rasa takut. Meski demikian, ia menegaskan tidak akan menghentikan aktivitas advokasi dan penyampaian aspirasi yang selama ini dijalankannya.

“Kalau tujuannya untuk membuat kami takut dan berhenti bersuara, itu tidak akan berhasil,” katanya.

Menurut Tiyo, berbagai bentuk tekanan yang diterimanya justru semakin menguatkan keyakinan bahwa perjuangan yang dilakukan bersama rekan-rekannya menyentuh persoalan penting yang dirasakan masyarakat.

“Semakin diteror, semakin kami tidak akan mundur. Kami akan tetap bersuara, mengawal keadilan, dan tidak gentar menghadapi ancaman apa pun,” tegasnya.

Halaman:

Tags

Terkini