Cilacap, SUARA PEMBARUAN – Konten video program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diunggah SPPG Sidanegara 2 menuai kecaman luas setelah mengaitkan narasi keluhan masyarakat dengan krisis kemanusiaan di Gaza.
Video berdurasi 24 detik yang diunggah pada Selasa (17/3/2026) itu sempat viral di media sosial sebelum akhirnya dihapus. Konten tersebut kembali beredar luas setelah diunggah ulang oleh akun X @dosenkesmas dan telah ditonton lebih dari 2 juta kali.
Dalam video, terlihat aktivitas petugas yang tengah menyiapkan menu MBG di dapur. Namun, narasi yang disematkan justru berisi berbagai keluhan yang kerap muncul di media sosial terkait program tersebut.
Konten itu kemudian disandingkan dengan potongan video kondisi anak-anak di Jalur Gaza yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan, mulai dari kekurangan pangan hingga kehancuran tempat tinggal.
Beberapa narasi yang muncul di antaranya, “Esnya kurang manis”, “Makanannya nggak enak”, hingga “Mending dijadiin uang saja”, yang ditutup dengan kalimat bernuansa religius.
Penggabungan dua konteks yang berbeda tersebut memicu kritik keras dari warganet. Banyak yang menilai konten tersebut tidak sensitif dan tidak memiliki empati terhadap situasi kemanusiaan di Palestina.
Menanggapi polemik yang berkembang, pihak SPPG Sidanegara 2 melalui tim media sosialnya, Andika, menyampaikan permintaan maaf.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian dalam pembuatan konten tersebut dan berjanji tidak akan mengulanginya,” ujarnya dalam klarifikasi.
Kepala SPPG Sidanegara 2, Hanif, juga menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa penderitaan di Palestina tidak dapat dibandingkan dengan kondisi apa pun, serta mengapresiasi kritik publik sebagai bahan evaluasi.
“Saya menyadari hal tersebut tidak tepat. Terima kasih atas pengingatnya, kami mohon maaf sebesar-besarnya,” ucapnya.
Di media sosial, respons warganet didominasi kritik. Banyak yang menilai perbandingan antara keluhan program domestik dengan krisis kemanusiaan global sebagai tidak relevan dan tidak etis.
Sejumlah komentar menyebut konten tersebut berpotensi melukai empati publik, bahkan dinilai dapat memicu perdebatan yang tidak produktif di ruang digital.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi pengelola media sosial instansi publik untuk lebih bijak dan sensitif dalam menyusun narasi, terutama yang berkaitan dengan isu kemanusiaan global.