Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, Potret Buram Keselamatan Laut di Selat Bali

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 4 Juli 2025 | 06:17 WIB



Denpasar, SUARA PEMBARUAN – Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali kembali menggugah perhatian publik terhadap rawannya keselamatan pelayaran di jalur laut strategis tersebut.

Kapal yang mengangkut total 65 orang—terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru—dilaporkan tenggelam setelah sempat hilang kontak pada Rabu malam, 2 Juli 2025, pukul 23.35 WIB. Selain manusia, kapal juga memuat 22 kendaraan berbagai jenis dalam pelayarannya dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk.

Hingga Kamis siang, 3 Juli 2025 pukul 11.00 WIB, otoritas melaporkan bahwa 31 orang telah berhasil diselamatkan, sementara 4 korban ditemukan meninggal dunia dan 30 lainnya masih dalam pencarian.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Muhammad Masyhud, mengonfirmasi bahwa pencarian dilakukan secara masif melibatkan setidaknya 15 kapal dan satu helikopter. “Hingga pukul 10.00 waktu setempat, sudah 31 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat,” ujarnya kepada media di Jakarta.

Selat Bali, sebagai jalur penting penghubung antara Pulau Jawa dan Bali, memang dikenal sebagai salah satu lintasan laut tersibuk di Tanah Air. Namun, di balik kesibukannya, selat ini menyimpan tantangan besar bagi dunia pelayaran, terutama karena karakteristik geografisnya yang dipengaruhi aktivitas tektonik.

Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya menambah catatan kelam panjang kecelakaan laut di Selat Bali. Berikut adalah sejumlah insiden serupa yang terjadi dalam empat dekade terakhir:

1. PLM Labalikan (1985)
Kapal ini dihantam badai dan gelombang tinggi. Sebanyak 13 awak kapal diselamatkan, sementara 12 lainnya tak pernah ditemukan.


2. Feri LCT Kaltim Mas II (1994)
Karam akibat arus laut ekstrem, tragedi ini menewaskan puluhan orang dan tercatat sebagai salah satu kecelakaan laut terparah di wilayah tersebut.


3. KMP Rafelia 2 (2016)
Tenggelamnya kapal ini diduga akibat kelebihan muatan kendaraan dan penumpang yang tak terkontrol dengan baik.


4. KMP Yunicee (2021)
Terseret arus deras dan diterpa gelombang besar saat akan bersandar di Gilimanuk, kapal ini akhirnya tenggelam dan menelan korban jiwa.


5. KMP Tunu Pratama Jaya (2025)
Insiden terbaru yang mempertegas masih rentannya sistem keselamatan laut, terutama dalam menghadapi cuaca buruk dan potensi overkapasitas.

 

Deretan tragedi tersebut mencerminkan belum optimalnya sistem pengawasan dan implementasi standar keselamatan pelayaran di jalur laut penting seperti Selat Bali. Pemerintah bersama instansi terkait perlu mengambil langkah konkret untuk memperkuat regulasi, pengawasan teknis, hingga pelatihan kru kapal guna mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.*

 

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X