Jamaah An-Nadzir Shalat Idul Adha, Kamis pagi.

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Kamis, 5 Juni 2025 | 12:58 WIB
Bertepatan calon jemaah haji masih bersiap untuk menjalani wukuf di Arafah, Jemaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis pagi (5/6/2025) telah melaksanakan Salat Idul Adha. (Ist)
Bertepatan calon jemaah haji masih bersiap untuk menjalani wukuf di Arafah, Jemaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis pagi (5/6/2025) telah melaksanakan Salat Idul Adha. (Ist)

 

MAKASSAR - SUARA PEMBARUAN - Jemaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis pagi (5/6/2025) telah melaksanakan Salat Idul Adha, lebih awal dari ketetapan pemerintah yang menetapkan Idul Adha jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025.

Ratusan jemaah tersebut berkumpul di Kelurahan Mawang, Kecamatan Bonto Marannu, untuk menunaikan Salat Idul Adha 1446 Hijriah. Keyakinan mereka bahwa penetapan hari raya ini berdasarkan hasil pemantauan perjalanan bulan Dzulqaidah menuju Dzulhijjah.

"Kami mengamati tanda-tanda alam dan perjalanan bulan, berdasarkan hal itu, kami tetapkan sebagai 10 Dzulhijjah 1446 Hijriah,” ujar Ustadz Samiruddin Pademui, Pimpinan Jemaah An-Nadzir.

 

Mereka memantau bulan secara manual sebagai metode turun-temurun yang menjadi tradisi dan kepercayaan khas komunitas An-Nadzir. Mereka meyakini bahwa metode ini memberikan kepastian yang cukup untuk menentukan waktu ibadah, termasuk Idul Adha, begitu juga Idul Fitri.

An-Nadzir merupakan salah satu aliran ajaran Islam yang cukup menarik perhatian sejak awal kemunculannya baik tata cara salat hingga penetapan bulan suci Ramadan yang berbeda dari organisasi Islam yang ada di Indonesia, seperti NU dan Muhammadiyah.

Di awal kemunculannya, An-Nadzir, kelompok ini sempoat difitnah sebagai aliran sesat atau kelompok teroris, penampilannya tampak unik, selalu menggunakan sorban serta rambut sebahu berwarna pirang.

Namun, seiring waktu aliran ini membuktikan bahwa ajaran yang diyakini merujuk pada Al-Qur'an dan Hadist sebagaimana dasar ajaran Islam, hanya saja pemaknaannya yang berbeda.

An-Nadzir adalah kelompok dakwah yang sangat positif dalam membimbing jamaah. Di sini terdapat sejumlah pengikut dari kalangan terpelajar, bahkan hebatnya, beberapa jamaahnya adalah mantan kriminal yang hijrah dan membangun kehidupan yang tentram dan damai dalam komunitas An-Nadzir, berdampingan dengan masyarakat dimana mereka berada.

Seperti umat Islam pada umumnya, usai melaksanakan Salat Ied, jemaah An-Nadzir melanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Tahun ini, dua ekor sapi dan dua ekor kambing disembelih untuk kemudian dibagikan kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan religius jemaah An-Nadzir yang dikenal dengan kekhasannya dalam penentuan waktu-waktu ibadah berdasarkan hisab dan rukyah ala mereka sendiri. (SP.news)

 






Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

X