"Kami berharap pada 2034 Campuranom berkembang menjadi desa wisata pertanian berbasis teknologi yang tetap menjaga kelestarian alam dan identitasnya sebagai desa agraris," ujarnya.
Pengembangan desa difokuskan pada lima pilar utama, yakni pertanian regeneratif dan kesehatan tanah, pengelolaan biomassa dan limbah secara sirkular, penguatan sistem air dan irigasi yang tahan perubahan iklim, pengembangan energi bersih desa, serta hilirisasi hasil pertanian dan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.
Koordinator penyusunan masterplan, Akhtar Rasyad, menjelaskan setiap program dirancang secara terintegrasi karena persoalan desa tidak dapat diselesaikan secara sektoral.
"Seluruh aspek mulai pertanian, energi, irigasi, pengelolaan limbah hingga hilirisasi produk kami hubungkan dalam satu tahapan pembangunan yang berkesinambungan hingga 2034," jelasnya.
Bagi masyarakat, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, membuka peluang usaha baru, sekaligus mendorong berkembangnya wisata berbasis pertanian dan edukasi.
Sementara bagi UNDIP, kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan di tingkat desa. Model pendampingan ini juga diproyeksikan dapat direplikasi di desa-desa agraris lain dengan penyesuaian terhadap karakteristik wilayah masing-masing.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah desa, dan masyarakat, UNDIP menunjukkan komitmennya menghadirkan inovasi yang tidak berhenti pada konsep, tetapi memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).*