Wonosobo, Suara Pembaruan – Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan pendampingan penerapan mesin pelet di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo awal Juli 2026 lalu Kegiatan ini dilakukan bersama Pemerintah Desa Sukoharjo dan BUMDes Hardjo Utomo.
Tim Pengabdian yang diketuai Prof Purnama Sukardi ini memperkenalkan inovasi teknologi mesin pembuat pelet ikan terintegrasi berbahan dasar magot. Magot adalah larva atau belatung Black Soldier Fly (BSF), bukan belatung dari lalat rumah.
Di Indonesia, Magot BSF (Black Soldier Fly) dibudidayakan untuk mengurai sampah organik. Bisa menjadi pakan ikan, ayam, bebek, dan burung karena kandungan proteinnya tinggi. Lalat dewasanya tidak menggigit dan bukan penyebar penyakit utama seperti lalat rumah. Magot mengonsumsi sampah sisa makanan, buah, sayuran, dan limbah organik.
Baca Juga: Hari Anak Nasional: Kerusakan Generasi, Sistem Islam sebagai Solusi
Dalam siaran pers yang diterima SP News, Jumat (31/7/2026) malam, Purnama Sukardi menyebutkan, pendampingan ini bertujuan meningkatkan kemampuan BUMDes Hardjo Utomo dalam memproduksi pakan, serta pemahaman aspek teknis, ekonomi, dan keberlanjutan usaha.
Program inovasi itu dilaksanakan dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat untuk tahun anggaran 2026.
Purnama Sukardi mengatakan, tim pengabdian juga memberi pendampingan mengenai budidaya magot, pengolahan bahan organik, formulasi pakan, pengamatan kesehatan ikan, penyusunan SOP produksi, serta pencatatan biaya usaha.
Menurutnya, program pengabdian ini memanfaatkan potensi dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga, budidaya magot, serta usaha perikanan budidaya.
Sebelumnya limbah organik rumah tangga Desa Sukoharjo masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Baca Juga: Jateng Memiliki Tingkat Kerawanan Bencana, PMI Harus Responsif
Di sisi lain, magot yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah organik belum sepenuhnya dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
Purnama Sukardi menjelaskan, magot berpotensi besar sebagai bahan baku pakan ikan alternatif karena memiliki kandungan protein yang dibutuhkan sebagai nutrisi ikan.
Pemanfaatannya perlu didukung dengan teknologi pengolahan yang tepat agar dihasilkan pakan yang lebih seragam, higienis, dan layak bagi kegiatan budidaya.