Dilema Baterai NCM vs LFP: Pertimbangan Konsumen RI di Tengah Tren Mobil Listrik Murah

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 4 Juli 2025 | 06:42 WIB
Salah satu mobil listrik asal Korea Selatan, Hyundai Ioniq 5. (ikpi.or.id)
Salah satu mobil listrik asal Korea Selatan, Hyundai Ioniq 5. (ikpi.or.id)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik menunjukkan peningkatan sepanjang 2025, terutama pada mobil listrik asal Tiongkok yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.

Meski demikian, kendaraan bermesin bensin masih menjadi pilihan utama, khususnya di wilayah non-perkotaan.

Berdasarkan hasil survei dari Populix, perusahaan riset dan penyedia platform daring, banyak konsumen masih ragu beralih ke kendaraan listrik.

Salah satu faktor utamanya adalah pertimbangan soal baterai, komponen inti dari kendaraan listrik, serta infrastruktur SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang belum merata di berbagai daerah.

Saat ini, dua jenis baterai lithium-ion yang umum digunakan adalah Nickel Cobalt Manganese (NCM) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Meski berasal dari kategori yang sama, kedua jenis baterai ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Evvy Kartini, pendiri National Battery Research Institute (NBRI), dalam diskusi Forwot Outlook pada Selasa, 1 Juli 2025, menjelaskan bahwa baterai NCM menawarkan daya lebih tinggi, sementara baterai LFP lebih ringan dan memiliki umur pakai yang lebih panjang.

Namun, ia juga menyoroti potensi permasalahan lingkungan akibat limbah baterai kendaraan listrik. Oleh karena itu, pemilihan jenis material baterai serta pengelolaan limbahnya menjadi isu yang penting untuk segera ditangani.

Sejalan dengan itu, warganet Ridwan Hanif melalui akun X @ridwanhr turut mengulas perbandingan antara kedua jenis baterai tersebut.

Ia menyebut bahwa meskipun NCM lebih unggul dari sisi performa, dampaknya terhadap lingkungan lebih besar karena mengandalkan nikel dan kobalt sebagai bahan baku.

"NCM lebih kuat, tapi berdampak lebih besar terhadap lingkungan. Lihat saja isu pertambangan nikel yang belakangan jadi sorotan," tulis Ridwan dalam unggahannya yang dikutip Kamis, 3 Juli 2025.

Sebaliknya, menurutnya, LFP lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung nikel maupun kobalt. Namun, ia mengakui bahwa LFP memiliki densitas energi yang lebih rendah dibanding NCM, sehingga jarak tempuhnya lebih pendek.

“Kalau saya, lebih baik pilih EV yang pakai baterai LFP,” imbuhnya.

Dalam unggahan lainnya, Ridwan juga membahas perbandingan baterai NCM dan LFP pada mobil listrik Xpeng X9 asal Tiongkok. Ia memaparkan bahwa perbedaan jenis baterai memengaruhi harga dan jarak tempuh kendaraan.

“Xpeng X9 punya dua opsi baterai: NCM dan LFP. NCM lebih mahal dan bisa menempuh jarak lebih jauh. LFP lebih murah, tetapi jangkauannya lebih pendek, walaupun dimensi dan beratnya sama. Karena itu akselerasinya tetap setara, meski kapasitas baterainya lebih kecil,” jelas Ridwan dalam unggahan pada 30 Juni 2025.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Stiletto Dagger Kreatifitas Tanpa Batas Kromworks

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 21:55 WIB
X