Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Kilau krom Stiletto Dagger berdisain futuristik, menyimpan perjalanan panjang eksplorasi desain, ketekunan, dan semangat kustom yang tak pernah padam yang berujung pada kepuasan sang owner, Rizaldi Parani. Dikerjakan oleh workshop Kromworks, yang bersama timnya menghabiskan lima tahun penuh naik-turun untuk mewujudkan satu visi: menciptakan motor rigid bergaya futuristik dengan sentuhan ekstrem.
Menggunakan mesin sepeda motor supra tahun yang dibeli Rizaldi pada Februari 2020. Namun karena pandemi Covid-19 membuat proyek Stiletto ini tersimpan cukup lama. “Awalnya belum diapa-apain, terus berubah lagi, desain lagi, sampai akhirnya di tahun 2024-2025 saya putuskan: kalau nggak keluar sekarang, ya nggak akan keluar-keluar,” ujar Rizaldi.
Andika Pratama builder Kromwoks menjelaskan Mesin yang awalnya satu silinder kemudian dikustom menjadi dua silinder “Kami pakai Super Cup karena bentuk bodinya cocok dengan konsep yang kami mau. Dengan sasis bawaan dan bodi stainless 316 membuat proses pembentukannya menjadi rumit, karena dibuat secara manual dan sangat teliti dan presisi tinggi
Nama Stiletto Dagger terinspirasi dari bentuk sepatu stiletto dengan hak tinggi berbentuk lancip dan tajam, dipadukan dengan kata “dagger” yang berarti belati. Motor ini dirancang menyerupai senjata ramping dan keras, dengan bodi stainless steel yang dibentuk manual. “Bagian paling susah itu bodi, karena harus simetris kanan-kiri. Stainless steel itu keras, jadi ketoknya juga lebih berat,” jelas Andika.
Desainnya berubah ubah selama bertahun-tahun. Velg, lampu depan, hingga detail kecil seperti gear dan lampu sein mengalami revisi berkali-kali. “Awalnya gear depan polos, tapi terlalu monoton. Akhirnya kami beri aksentuasi agar lebih hidup,” tambah Rizaldi.
Meski tampil ekstrem, Stiletto Dagger tetap fungsional. Semua lampu dan sein bekerja dengan baik, namun karena rangka rigid, motor ini tidak dirancang untuk perjalanan jauh. “Kalau buat jalan-jalan dekat oke, tapi untuk harian pasti nggak nyaman. Sebuah karya otomotif memang harus ada yang dikorbankan antara fungsi, kenyamanan atau estetika,” ujar Rizaldi.
Motor ini rencananya akan dikoleksi pribadi, namun Rizaldi terbuka jika ada yang ingin membeli yang penting mau merawat. “Beli itu artinya merawat. Kalau ada yang mau, silakan,” katanya.
Kembali ke Panggung Setelah 7 Tahun, Stiletto Dagger menjadi penanda kembalinya Rizaldi ke dunia kustom setelah tujuh tahun vakum. Terakhir kali ia tampil di ajang ESC pada 2018 dengan motor Honda Tiger. “Kangen banget rasanya. Bisa kumpul lagi, ketemu teman-teman, itu udah bikin senang,” tuturnya.
Dengan harga mesin yang disebut “murah banget, di bawah Rp10 miliar”, Stiletto Dagger bukan sekadar motor, tapi manifestasi dari semangat kustom yang terus berevolusi. Ia adalah bukti bahwa di dunia kustom, proses adalah panggung utama, dan hasilnya adalah karya seni yang bisa melaju.
Artikel Terkait
Ajang Bergengsi Tekiro Mechanic Competition 2025 Sukses Gaet Lebih dari 80 Ribu Siswa SMK Otomotif se-Jawa
Kustomfest 2025 “The Madchinist”: Panggung Kreasi Edan Builder Builder Gila Indonesia
Gelaran Kustomfest 2025 Resmi Dibuka: Budaya Kustom Indonesia Mendunia