Tim Basket Putri Unika Soegijapranata dan Putra UKSW Juarai Campus League

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Jumat, 8 Mei 2026 | 18:08 WIB
Tim Basket Putri Unika Soegijapranata Semarang dan Tim Basket Putra UK Satya Wacana Juarai Campus league Ist.
Tim Basket Putri Unika Soegijapranata Semarang dan Tim Basket Putra UK Satya Wacana Juarai Campus league Ist.

 

Yogyakarta SUARA PEMBARUAN – GOR Universitas Islam Indonesia (UII) di Kaliurang, Yogyakarta, bergemuruh luar biasa pada Kamis malam (7/5/2026). Ribuan suporter yang memenuhi tribun tak henti-hentinya bersorak. Bukan tanpa alasan: Final Campus League 2026 untuk kategori putra dan putri melahirkan kampiun dari satu wilayah yang sama, Jawa Tengah. Tim putra Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan tim putri Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang sama-sama keluar sebagai juara pertama. Catatan ini sekaligus menegaskan bahwa dominasi Jateng di level regional belum tergoyahkan.

Final putra menyajikan duel sengit antara UKSW melawan Universitas Semarang (USM) yang diperkuat dua pemain asing asal Afrika. Sejak tip-off, USM langsung mengandalkan post-up power asing mereka. Kuarter pertama pun dimenangkan USM dengan skor 20-15. Namun laga berubah drastis di kuarter kedua. Pelatih UKSW, Reven Jonathan, melakukan rotasi penuh dengan memasukkan Brooklyn Raffael Tristan sebagai motor defense. Hasilnya, perebutan bola mati dan steal beruntun yang membuat USM kesulitan menembus pertahanan zona yang kerap berubah menjadi man-to-man. Skor kuarter kedua 22-12 untuk UKSW, membuat paruh pertama berakhir 37-32 untuk Salatiga. Memasuki kuarter tiga, pemain asing USM mulai gerah dan terkena foul trouble. Saat skor masih 48-45, Brooklyn melakukan aksi heroik dengan dua kali blok beruntun terhadap lay-up pemain lawan, lalu disambut fast break yang diakhiri dengan dunk kontroversial, namun wasit mengesahkannya. Tribun pun histeris. Kuarter tiga ditutup UKSW unggul 58-49. Pada kuarter akhir, USM mencoba comeback lewat tiga angka beruntun, namun mental defense UKSW terbukti lebih kokoh. Brooklyn mencatatkan double-double: 14 poin, 12 rebound, dan 5 steal. Skor akhir: UKSW 78 – USM 69. Usai laga, Brooklyn menyatakan bahwa malam itu pertahanan timnya seperti tembok, bahkan ada saatnya pemain USM frustrasi karena tiga kali berturut-turut tak bisa mencetak poin di paint area, yang menjadi momen balik arah.

Sementara itu, laga final putri justru berlangsung lebih tanpa ampun. Unika Soegijapranata menghadapi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang selama ini dikenal tangguh di kandang sendiri. Tapi sejak kuarter pertama, pelatih Arief Djazuli Rachmat sudah memasang instruksi full-court press yang membuat UNY panik. Skor kuarter pertama 21-9 untuk Unika. Kuarter kedua tak lebih baik bagi UNY: 18-7. Permainan Unika sangat terstruktur. Erinindita Prias Madafa, kapten tim, memimpin dengan pick and roll yang sulit dibaca lawan. Ia mencatat 17 poin, 8 assist, dan 5 steal. Di kuarter ketiga, UNY sempat menunjukkan perlawanan dengan tempo cepat, namun keunggulan terlalu jauh. Unika tetap disiplin, tidak membiarkan lawan mencetak lebih dari 14 poin per kuarter. Skor akhir: Unika Soegijapranata 65 – UNY 44. Pelatih Arief mengatakan bahwa begitu unggul 12 poin di kuarter pertama, ia sudah melihat mata lawan mulai kosong, dan timnya tidak memberi ampun, bahkan di kuarter empat ia sempat duduk di bangku cadangan karena anak-anak sudah bisa membaca strategi sendiri.

Menariknya, kedua tim menjalani pekan final ini bersamaan dengan masa Ujian Tengah Semester (UTS). Erinindita mengaku dua pemainnya sempat izin latihan lantaran ujian praktikum. Mereka tetap koordinasi dengan dosen, ada yang diizinkan susulan, ada yang tetap ujian tapi langsung ke lapangan. Ia bercerita pernah ada pemain yang datang ke GOR masih memakai seragam laboratorium. Di kubu UKSW, pelatih Reven Jonathan menegaskan bahwa tidak ada latihan yang dikorbankan. Justru mereka memanfaatkan ujian untuk melatih manajemen stres, sama seperti saat free throw di menit akhir.

Meski puas dengan kemenangan regional, kedua tim sadar bahwa panggung nasional akan jauh lebih berat. Reven menyebut setidaknya ada tujuh tim yang sudah dipetakan sebagai ancaman serius: Esa Unggul, Binus, Perbanas dari Jakarta, serta UBL, Maranatha, Ubaya, dan Petra dari Surabaya. Ia menegaskan bahwa fisik lawan berbeda level, namun timnya tidak akan datang hanya untuk menggembirakan. Defense adalah identitas mereka, dan defense bisa meredam bintang lawan. Sementara Erinindita lebih blak-blakan menargetkan juara nasional. Baginya itu bukan hal gila karena di regional mereka sudah mengalahkan tuan rumah UNY dengan selisih 21 poin.

Brooklyn Raffael Tristan juga menyoroti pentingnya jumlah pertandingan pramusim nasional. Ia meminta agar jumlah game jangan dikurangi, karena semakin banyak pertandingan, semakin besar peluang pemain terlihat oleh pelatih timnas atau liga profesional. Jam terbang mahasiswa selama ini sangat kurang. Setelah seremoni medali, para pemain UKSW dan Unika menyalami satu sama lain. Ada semangat baru dari dua kampus Jawa Tengah ini: bukan hanya saling bersaing, tapi juga mengangkat nama daerah ke tingkat nasional. Erinindita pun menutup dengan ajakan sampai jumpa di final nasional, dan berharap final nanti masih antara UKSW dan Unika.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polri Resmi Gelar E-Sport Kapolri Cup 2026

Minggu, 7 Juni 2026 | 17:32 WIB
X