nasional

Dzikir Bersama Haul Sultan Hasanuddin

Rabu, 12 Juni 2024 | 17:59 WIB
Haul Sultan Hasanuddin (ist)

Gowa-Suarapembaruan.news. Dalam rangka mengenang 354 tahun wafatnya Sultan Hasanuddin, Keluarga Besar Laskar Gowa Bersejarah (Lagober) Bate' Tumangkasara dan Majelis Dzikir Adat Gowa Lagober mengundang masyarakat untuk menghadiri dzikir bersama, Rabu (12/6/2024) di Aula Makam Sultan Hasanuddin, Katangka, Gowa.

Haul tersebut sebagai bentuk upacara ulang tahun kematian bagi seseorang yang telah meninggal dunia. Bagi sebagian masyarakat Gowa, hari wafatnya Sultan Hasanuddin 12 Juni selalu dikenang, mereka melakukan berbagai kegiatan, diantaranya dzikir dan doa berasama, seperti yang dilakukan oleh Keluarga Besar Laskar Gowa Bersejarah (Lagober), tujuannya untuk mendoakan dan memberi penghormatan kepada leluhur dan keluarganya.

Sultan Hasanuddin lahir 12 Januari 1631, dia adalah Sultan Gowa ke-16, terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.

Setelah menaiki takhta, ia digelar Sultan Hasanuddin, setelah meninggal digelar Tumenanga Ri Balla Pangkana. 
Karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan dari Timur.

Sultan Hasanuddin merupakan putra dari Raja Gowa ke-15, I Manuntungi Muhammad Said Daeng Mattola yang bergelar Sultan Malikussaid. Cucu dari Sultan Alauddin yang merupakan Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam.

Pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya. Dan pada masa itu juga terjadi perang besar menghadapi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Perusahaan Hindia Timur Belanda dan sekutunya Arung Palakka, Kerjaaan Bone.

Perang besar-besaran itu dipimpin Cornelis Janszoon Spelman yang hendak mewujudkan keserakahan VOC untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dan menekan Gowa hingga akhirnya mendapat perlawanan sengit dari Sultan Hasanuddin dan rakyatnya.

Setelah perang berlangsung beberapa tahun, Gowa mengalami masa sulit akibat gempuran meriam dari armada VOC. Demi keselamatan rakyatnya, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya 18 November 1667.

12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin wafat dan dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Untuk mengenang perjuangannya, pemerintah menetapkan Sultan Hasanuddin sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973. (SP.news/MK Said)

Terkini