nasional

Ekonomi RI Tumbuh 5,29%, Konsumsi, Investasi, dan Ekonomi Digital Jadi Mesin Utama

Kamis, 6 Agustus 2026 | 13:08 WIB
Moh. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS

 

 

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah perlambatan ekonomi global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam rilis resmi BPS mengatakan, capaian tersebut ditopang oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, percepatan investasi, ekspansi industri pengolahan, serta pesatnya aktivitas ekonomi digital yang tetap menjadi penyangga pertumbuhan nasional.

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II-2026 atas dasar harga berlaku tercatat Rp6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun. Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi tumbuh 3,73 persen, sementara pertumbuhan kumulatif semester I-2026 mencapai 5,45 persen.

Meski ekonomi global dibayangi perlambatan perdagangan internasional dan melemahnya pertumbuhan sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, permintaan domestik Indonesia tetap solid. Konsumsi masyarakat meningkat, didorong momentum libur panjang, hari besar keagamaan, serta pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, Polri, dan pensiunan.

BPS mencatat konsumsi restoran dan hotel melonjak 11,97 persen, impor barang konsumsi naik 27,15 persen, sedangkan penjualan mobil penumpang dan sepeda motor masing-masing meningkat 25,50 persen dan 6,62 persen secara tahunan.

Aktivitas ekonomi digital juga terus menguat. Nilai transaksi e-retail dan marketplace yang dipantau BPS tumbuh 35,13 persen, sejalan dengan meningkatnya transaksi pembayaran digital dan penggunaan layanan telekomunikasi di berbagai sektor.

Dari sisi produksi, industri pengolahan kembali menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi sumber pertumbuhan terbesar sebesar 0,90 persen. Sektor perdagangan menyumbang 0,83 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,48 persen.

Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 10,81 persen, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum 10,60 persen, serta informasi dan komunikasi 6,97 persen.

Sebaliknya, sektor pertambangan masih tertekan dengan kontraksi 1,64 persen akibat penurunan produksi bijih logam, batu bara, dan migas, serta belum pulihnya operasional tambang bawah tanah di Papua Tengah.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur PDB dengan kontribusi 53,32 persen dan tumbuh 5,06 persen. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen, sedangkan konsumsi pemerintah melesat 15,97 persen, didorong meningkatnya belanja pegawai, belanja barang dan jasa, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara regional, seluruh wilayah Indonesia mencatat pertumbuhan positif. Kawasan Bali dan Nusa Tenggara menjadi yang tercepat dengan pertumbuhan 6,10 persen, disusul Pulau Jawa 5,65 persen dan Sulawesi 5,53 persen, seluruhnya berada di atas rata-rata nasional.

Di sektor manufaktur, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) berada di level 52,31, menandakan aktivitas industri besar dan sedang masih berada pada fase ekspansi.

Dengan kombinasi konsumsi domestik yang tetap kuat, investasi yang meningkat, serta geliat ekonomi digital dan industri manufaktur, BPS menilai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.*

Halaman:

Tags

Terkini

Prof Juanda. : Penggantian Kapolri Absolud Presiden

Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:31 WIB