Oleh: Bangun Lubis
▪︎ Pandangan Abah Ihsan, Fasilitator Belajar Indonesia
Di era digital, aplikasi WhatsApp telah menjadi salah satu sarana komunikasi utama antara sekolah, guru, dan orang tua murid. Kehadirannya memang memudahkan penyampaian informasi, koordinasi kegiatan, hingga pemantauan perkembangan belajar anak. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan baru yang perlu mendapat perhatian, yaitu semakin kaburnya batas antara kehidupan profesional dan kehidupan pribadi seorang guru.
Menurut Abah Ihsan, Fasilitator Belajar Indonesia, sudah saatnya komunikasi antara guru dan orang tua murid diatur dengan lebih bijaksana. Salah satunya adalah dengan melakukan pembatasan penggunaan grup WhatsApp agar tidak mengganggu privasi guru.
Guru bukanlah petugas layanan yang harus siap melayani selama 24 jam. Mereka juga memiliki keluarga, waktu istirahat, serta hak untuk menikmati kehidupan pribadi. Tidak sedikit guru yang menerima pesan dari orang tua hingga larut malam, bahkan pada hari libur. Ada pula yang dituntut memberikan respons seketika terhadap berbagai persoalan yang sebenarnya tidak bersifat mendesak.
Baca Juga: Turmini Tenis Meja Gelapa Series-4 2026 Kembali Digelar, 140 Petenis Berlaga di PTM Agramas Kumbang
Kondisi seperti ini berpotensi menimbulkan tekanan psikologis, kelelahan, hingga menurunkan kualitas kinerja guru di kelas. Padahal, guru yang memiliki waktu istirahat yang cukup akan lebih siap memberikan pembelajaran yang berkualitas kepada peserta didik.
Karena itu, komunikasi melalui grup WhatsApp sebaiknya dibatasi hanya untuk kepentingan informasi resmi sekolah, seperti jadwal kegiatan, pengumuman akademik, atau pemberitahuan penting lainnya. Sementara persoalan pribadi mengenai siswa hendaknya disampaikan melalui mekanisme yang telah ditetapkan sekolah, dengan waktu komunikasi yang jelas.
Selain itu, sekolah perlu menetapkan etika komunikasi digital. Misalnya, orang tua diimbau tidak menghubungi guru di luar jam kerja kecuali dalam keadaan darurat. Guru pun tidak dibebani kewajiban untuk selalu aktif membalas pesan setiap saat.
Hubungan yang sehat antara guru dan orang tua bukan diukur dari seberapa sering mereka berkomunikasi melalui WhatsApp,9 melainkan dari kualitas kerja sama dalam mendukung perkembangan anak. Saling menghormati batasan dan privasi justru akan menciptakan hubungan yang lebih profesional, harmonis, dan saling menghargai.
Anak-anak akan memperoleh manfaat terbesar apabila guru dapat bekerja dengan tenang, fokus, dan tetap memiliki keseimbangan antara tugas profesinya dengan kehidupan pribadinya. Oleh sebab itu, pembatasan komunikasi digital bukanlah bentuk menjauhkan guru dari orang tua, melainkan upaya membangun budaya pendidikan yang lebih sehat, manusiawi, dan berkelanjutan.