Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Wajah Salma Nadhifah Hasna Khairiyyah (19) tampak begitu sumringah saat ditemui di kediamannya yang berada di padukuhan Nogosari, Desa Sidokarto, Godean, Sleman. Pasalnya, ia berhasil selangkah lebih dekat dengan cita-citanya setelah diterima di Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada Maret lalu.
Di balik keberhasilan Salma menembus Program Studi Psikologi UGM, terdapat perjuangan panjang seorang ibu yang selama bertahun-tahun berusaha menjadi sandaran keluarga. Riyanti (48), ibu Salma, masih mengingat betul masa-masa sulit yang harus dilalui setelah sang suami meninggal dunia pada 2021. Kehilangan pasangan hidup sekaligus tulang punggung keluarga membuatnya harus memulai kembali dari nol.
Saat itu, Riyanti tidak memiliki pekerjaan tetap. Di tengah ketidakpastian, ia berusaha mencari cara agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Kesempatan datang ketika seseorang menawarkan dirinya untuk berjualan air minum kemasan. Dari usaha kecil itulah ia bertahan hingga hari ini.
Setiap harinya, Riyanti mengandalkan telepon genggam untuk menawarkan dagangannya. Ia menerima pesanan melalui WhatsApp, lalu mengantarkan air minum ke warung-warung maupun pelanggan yang membutuhkan. Tidak ada toko besar, tidak ada sistem penjualan yang pasti. Kadang dagangannya laku, kadang tidak. Dalam sebulan, penghasilannya berkisar Rp1,5 juta.
Meski demikian, Riyanti mengaku tidak pernah ingin menyerah pada keadaan. Sebagai orang tua tunggal, ia menyadari bahwa dirinya harus tetap kuat demi anak-anaknya. “Saya sering ada di titik terendah dalam keluarga. Tapi Tuhan itu Maha Baik. Kita berusaha terus. Kalau hari ini tidak jualan, nanti ada rezeki lain yang tiba-tiba datang,” tuturnya, Rabu (8/7).
Di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi, Riyanti tidak pernah memadamkan mimpi putrinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ketika Salma menyampaikan keinginannya untuk berkuliah di UGM, ia memilih untuk mendukung sepenuh hati meskipun belum mengetahui bagaimana biaya pendidikan itu akan terpenuhi nantinya.
Bagi Riyanti, mimpi anak adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bersama. Selama masih ada kemauan untuk berusaha, selalu ada harapan yang bisa digenggam. “Salma cerita kalau dia mau kuliah. Saya bilang pokoknya semangat belajar, insyaallah ada jalannya. Meskipun ada keterbatasan ekonomi, saya tetap dukung. Tidak tahu jalannya dari mana, tapi dicoba dulu saja,” katanya.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Salma selama duduk di bangku SMAN 1 Godean. Ia mengaku orang tuanya selalu memberikan semangat dan kepercayaan penuh terhadap pendidikan yang ditempuhnya meskipun hidup di dalam keterbatasan ekonomi. Baginya, dukungan tersebut menjadi sumber kekuatan untuk terus berusaha meraih cita-cita. Selain berprestasi secara akademik, Salma juga aktif di kegiatan ekstrakurikuler terutama dalam bidang jurnalistik di sekolah.
Momen yang paling membekas dalam ingatannya tentu saja saat pengumuman SNBP. Pada hari itu, Salma masih harus mengikuti ujian sekolah hingga siang hari. Alih-alih dapat fokus menunggu hasil seleksi, ia justru harus menyelesaikan kewajibannya sebagai siswa terlebih dahulu. Setelah pulang ke rumah, berbagai perasaan mulai bermunculan, mulai dari harapan, rasa penasaran, hingga kekhawatiran apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Menjelang pukul tiga sore, suasana di berbagai grup WhatsApp semakin ramai. Teman-teman mulai membicarakan pengumuman yang tinggal menghitung menit. Namun, Salma memilih untuk tidak larut dalam ketegangan tersebut. Ia memutuskan menenangkan diri dengan menunaikan salat Ashar terlebih dahulu sebelum membuka hasil seleksi. Kebahagiaan itu semakin bertambah ketika Salma mengetahui bahwa dirinya memperoleh subsidi UKT 100 persen dari UGM. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan kabar yang benar-benar tidak ia sangka sebelumnya. “Keadaan ekonomi kini memang sulit, tetapi ternyata alhamdulillah UGM memberi subsidi sampai 100 persen dan itu di luar bayangan saya selama ini,” ujarnya dengan berkaca-kaca.
Di balik seluruh pencapaian yang berhasil diraih, terdapat sosok yang menurut Salma memiliki peran sangat besar dalam hidupnya, yaitu sang ibu. Ia menyebut ibunya sebagai sosok yang kuat dan selalu hadir memberikan dukungan dalam setiap proses yang dijalaninya.“Peran ibu sangat penting bagi saya karena ibu sendiri yang sudah membesarkan saya dari saya kecil. Beliau adalah sosok yang kuat, yang selalu memberi saya support sampai sekarang. Saya tidak akan berada di titik ini kecuali dengan ibu saya. Makasih umi,” tuturnya.
Menjelang pengumuman SNBP, kata Riyanti, ia mengaku menjadi salah satu orang yang paling tidak tenang. Selama hampir sepekan sebelum hasil seleksi diumumkan, ia terus memanjatkan doa agar putrinya diberikan hasil terbaik. “Perasaan saya sudah dag dig dug sejak satu minggu sebelum pengumuman. Saya terus berdoa, ya Allah tolong luluskan anakku,” ujarnya.
Doa itu akhirnya terjawab pada hari pengumuman. Ketika layar menunjukkan bahwa Salma diterima di UGM, suasana rumah langsung dipenuhi tangis haru. Perjuangan yang selama ini mereka jalani seakan menemukan titik terang. “Saat pengumuman itu sangat penuh haru. Kami semua menangis saat Salma diterima,” kenangnya.
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Salma mendapatkan subsidi UKT 100 persen dari UGM. Sebagai seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya seorang diri, kabar tersebut menjadi anugerah yang tidak pernah berhenti ia syukuri.