Semarang, SUARA PEMBARUAN – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menggelar simulasi keadaan darurat terintegrasi di Integrated Terminal (IT) Semarang sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi insiden operasional. Kegiatan ini menjadi sarana pengujian sistem tanggap darurat sekaligus mempererat koordinasi antarinstansi dalam penanganan kondisi darurat.
Simulasi dimulai dengan skenario terjadinya overpressure pada jalur penerimaan di IT Semarang yang memicu aktivasi sistem tanggap darurat dan penghentian sementara operasional demi menjamin keselamatan pekerja serta fasilitas.
Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi kebocoran pada block valve di kawasan Hutan Mangrove Tambakrejo dan fasilitas Single Point Mooring (SPM) 50.000 DWT. Menyikapi situasi itu, tim Emergency Response bergerak cepat melakukan pemasangan oil boom, penyekatan area terdampak, serta penanganan tumpahan minyak guna mencegah pencemaran lingkungan yang lebih luas.
Skenario semakin kompleks ketika sejumlah nelayan mendekati area terdampak tumpahan minyak. Dalam simulasi tersebut, sebuah kapal nelayan mengalami kebakaran setelah puntung rokok yang digunakan awak kapal memicu material mudah terbakar di sekitar lokasi.
Nelayan yang terjatuh ke laut berhasil dievakuasi menggunakan peralatan keselamatan laut. Korban kemudian mendapat pertolongan pertama di lokasi sebelum dilakukan proses evakuasi medis oleh tim kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.
Simulasi melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, instansi pemerintah, tenaga kesehatan, hingga pemangku kepentingan lainnya yang berperan dalam penanganan keadaan darurat secara terpadu.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan latihan semacam ini rutin dilakukan di seluruh instalasi operasional Pertamina guna memastikan kesiapan personel dan efektivitas koordinasi saat menghadapi kondisi darurat yang sesungguhnya.
“Pada saat keadaan darurat yang sebenarnya, hal yang terpenting adalah koordinasi dan komunikasi antara semua pihak yang terlibat. Dalam situasi emergency, penanganan bisa menjadi lebih lama atau semakin kompleks apabila koordinasi tidak berjalan optimal karena semua pihak berada dalam kondisi panik. Karena itu, pola koordinasi harus terus dilatih agar penanganan kejadian lebih efektif dan efisien,” ujar Taufiq.
Menurutnya, simulasi ini juga menjadi langkah untuk memastikan seluruh personel memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing ketika menghadapi keadaan darurat.
Sementara itu, Koordinator Lapangan BPBD Kota Semarang, Afgan Ilham Widiatmoko, mengapresiasi pelaksanaan simulasi yang dinilai mampu memperkuat kesiapsiagaan bersama antara Pertamina, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar.
“Simulasi ini menjadi sarana yang sangat baik untuk memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan antara Pertamina, BPBD, serta masyarakat sekitar dalam menghadapi potensi keadaan darurat. Kami berharap sinergi ini terus diperkuat bersama pemerintah kelurahan dan warga di sekitar wilayah operasional,” katanya.
Apresiasi serupa disampaikan Rescuer Terampil Kantor SAR Semarang, Fajar Kurnianto. Ia menilai pelaksanaan simulasi berjalan lancar berkat koordinasi yang baik antara tim penyelamat, tenaga medis, dan seluruh unsur yang terlibat.
“Secara keseluruhan simulasi berjalan dengan baik. Koordinasi yang solid membuat proses evakuasi dan penanganan korban dapat dilakukan secara aman, lancar, dan optimal,” ungkapnya.