Semarang, Suara Pembaruan – Luar biasa tingkat konsumsi masyarakat di Kota Semarang selama hari raya Idul Fitri. Seiring dengan meningkatnya konsumsi tersebut, volume sampah justru melonjak tajam, bukannya menurun.
Hanya dalam waktu tiga hari, terutama mulai tanggal 18–20 Maret 2026, volume sampah meningkat drastis. Sampah yang harus diangkut ke TPA Jatibarang Semarang mencapai angka hingga 1.090 ton per hari.
Ditemui saat rapat paripurna DPRD Kota Semarang, pihak terkait menyampaikan bahwa peningkatan volume sampah sudah terjadi bahkan sejak sebelum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. “Pada H-1 Lebaran, kami sudah mengoptimalkan pengangkutan untuk menghabiskan volume sampah yang ada di TPS, mengingat sebagian petugas juga mulai libur. Baru kemudian tanggal 23 Maret 2026 dan seterusnya pengangkutan berjalan normal,” ujarnya.
Pengangkutan sampah dilakukan secara bertahap, termasuk di TPS yang mengalami kelebihan kapasitas (overload). Penumpukan tidak hanya terjadi di dalam kontainer, tetapi juga di luar area TPS.
Parahnya lagi, kondisi ini diperburuk oleh kebiasaan sebagian warga yang membuang sampah tidak langsung ke dalam kontainer. “Banyak warga yang membawa sampah sendiri ke TPS, tetapi mohon maaf tidak memasukkannya ke dalam kontainer. Akibatnya, sampah menumpuk di lantai atau di luar TPS, jadi langsung dilempar,” katanya.
Kondisi tersebut jelas menambah durasi waktu pengangkutan. Kontainer tidak terisi optimal, sementara sampah sudah berserakan di sekitarnya. Petugas harus terlebih dahulu memindahkan sampah dari luar TPS ke dalam kontainer sebelum dapat diangkut ke truk. Hal ini semakin terkendala karena petugas dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) tidak beroperasi secara penuh selama masa Lebaran.
Setelah masa Lebaran, volume sampah berangsur stabil di kisaran 900 hingga 1.000 ton per hari. Dari fasilitas umum relatif stabil, kecuali di titik-titik transportasi seperti stasiun dan terminal. Di kawasan Stasiun Semarang Tawang, misalnya, terjadi peningkatan karena tingginya mobilitas penumpang. Meski demikian, pengelolaan sampah di simpul transportasi tersebut telah mendapatkan pemantauan khusus dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Sebagian besar sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik, seiring meningkatnya aktivitas memasak dan kunjungan keluarga selama Lebaran.
Lonjakan volume sampah yang signifikan ini menimbulkan risiko serius terhadap ketersediaan dan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA), khususnya TPA Jatibarang Semarang. Jika tren peningkatan ini terus berulang setiap periode hari besar tanpa diimbangi pengelolaan yang lebih baik, umur operasional TPA dapat semakin pendek.
TPA yang menerima beban melebihi kapasitas ideal berpotensi mengalami percepatan penuh (overcapacity), yang berdampak pada meningkatnya risiko pencemaran lingkungan, seperti rembesan lindi (leachate) ke tanah dan air tanah, serta peningkatan emisi gas metana yang berbahaya bagi kesehatan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Selain itu, keterbatasan lahan untuk perluasan TPA menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Semarang. Jika tidak ada upaya pengurangan sampah dari sumbernya—seperti pemilahan, daur ulang, dan pengolahan sampah organik—maka ketergantungan terhadap TPA akan semakin tinggi.
Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan biaya operasional pengangkutan dan pengelolaan sampah, serta memperberat beban kerja petugas kebersihan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah dengan benar serta mengurangi produksi sampah, terutama pada momentum dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Idul Fitri.***