Jayapura, SUARAPEMBARUAN.COM - Komnas HAM Papua mentakan turut berduka cita dan keprihatinan mendalam atas insiden penembakan yang menewaskan seorang karyawan PT Freeport Indonesia di area tambang Grasberg, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Rabu (11/3/2026).
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 08.30–08.39 WIT di kawasan reklamasi lama Grasberg (Jayapura Ex Pontil). Korban tewas adalah Simson Mulia (48 tahun), sementara satu karyawan lainnya mengalami luka ringan. PT Freeport Indonesia mengonfirmasi kejadian ini dan menyampaikan duka cita mendalam atas kehilangan Simson Mulia, sambil terus berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk memastikan keselamatan karyawan.
Kepada SP, Ketua Komnas HAM Papua Frits Bernard Ramandey, Jumat (13/3/2026) menekankan bahwa penyusupan kelompok sipil bersenjata ke kawasan pertambangan Freeport harus diwaspadai secara serius. Kelompok tersebut dinilai memiliki pengalaman tinggi, mengetahui rute serta posisi strategis di area tersebut, dan memiliki jaringan luas yang memungkinkan mereka menembus pengamanan berlapis milik perusahaan.
"Beberapa tahun lalu, ada catatan bahwa security di lingkungan Freeport sempat berkomunikasi dengan mereka. Ini menunjukkan bahwa kelompok yang masuk bukan sembarang pihak, melainkan yang berpengalaman dan punya koneksi," ujar Ramandey.
Ia menambahkan bahwa kemampuan kelompok ini lolos masuk ke wilayah yang dijaga ketat bukan hal sepele. Insiden ini perlu didalami secara mendalam untuk memetakan identitas pelaku—apakah ini kelompok lama yang sebelumnya beroperasi di sekitar Tali Kopi lalu bergeser ke Intan Jaya, atau kelompok baru yang sengaja dikonsolidasikan untuk memantau dan bereaksi terhadap kondisi di lingkungan Freeport.
"Kalau mereka bisa masuk, ini sudah menandakan ada celah yang signifikan. Bukan hanya soal penanganan langsung, tapi harus dipetakan siapa kelompok yang bermain, jaringan mereka ke mana, dan bagaimana pola operasinya," tambahnya.
Ramandey menegaskan bahwa kelompok bersenjata seperti ini tidak bertindak secara membabi buta. Mereka beroperasi dengan perencanaan matang, pengalaman lapangan, serta dukungan jaringan yang kuat. Oleh karena itu, ia mendesak aparat keamanan dan pihak terkait untuk tidak hanya menangani insiden secara reaktif, melainkan melakukan pemetaan komprehensif guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Hingga kini, polisi dan Satgas Damai Cartenz masih menyelidiki pelaku yang berstatus orang tak dikenal (OTK). Dugaan kuat dari berbagai sumber kepolisian mengarah pada keterlibatan kelompok kriminal bersenjata (KKB), dengan penyelidikan terus dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku dan motifnya.*