nasional

Haedar Nashir Tekankan Penguatan Akidah Berkemajuan di Era Global

Sabtu, 21 Februari 2026 | 20:22 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah di UMY. (Ist)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Arus globalisasi yang kian deras dinilai menuntut umat Islam memiliki pijakan ideologis yang kokoh agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Ballroom Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (20/02/2026) malam.

Dalam forum yang dihadiri pimpinan dan kader dari berbagai daerah itu, Haedar menegaskan pentingnya memperkuat akidah sebagai landasan gerakan Islam berkemajuan. Menurutnya, globalisasi membawa dampak luas, mulai dari percepatan teknologi, pertukaran budaya, hingga perubahan sosial yang tidak bisa dihindari. Kondisi tersebut, kata dia, menuntut umat memiliki fondasi keimanan yang kuat sekaligus terbuka terhadap dinamika zaman.

“Tauhid tidak boleh berhenti sebagai konsep teologis. Ia harus menjadi kekuatan yang mendorong kemajuan peradaban,” ujarnya dalam pengajian bertema Akidah Islam Berkemajuan.

Haedar menjelaskan, pemahaman tauhid yang murni perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan kemaslahatan publik. Keberagamaan, lanjutnya, harus mencerminkan sikap rasional, moderat, dan berorientasi pada solusi. Dengan begitu, ajaran Islam tidak terjebak dalam praktik yang stagnan, melainkan melahirkan kreativitas, inovasi, serta pembaruan.

Sejak berdiri pada 1912, Muhammadiyah dikenal membawa semangat tajdid atau pembaruan di berbagai bidang kehidupan. Spirit tersebut, menurut Haedar, harus terus dijaga dan dikembangkan oleh generasi penerus. Ia mengingatkan bahwa kader Muhammadiyah tidak cukup memahami ajaran secara normatif, tetapi juga dituntut mampu menerjemahkannya dalam konteks kekinian.

“Akidah yang kokoh harus melahirkan karya nyata, baik di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, maupun kebangsaan,” tegasnya.

Haedar juga menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memengaruhi cara berpikir serta pola interaksi masyarakat. Di satu sisi, kemajuan ini membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas hidup. Namun di sisi lain, ia dapat mengikis nilai jika tidak diimbangi dengan penguatan ideologi.

Karena itu, ia menekankan bahwa akidah berkemajuan harus berfungsi ganda: sebagai benteng yang menjaga kemurnian keyakinan dan sebagai jembatan yang membuka ruang dialog serta kerja sama lintas kelompok. Pendekatan tersebut dinilai penting agar umat Islam mampu berkontribusi dalam membangun peradaban yang adil dan berkelanjutan.

Menurutnya, keberagamaan berkemajuan bukanlah sikap eksklusif yang menutup diri, melainkan inklusif dan adaptif terhadap perubahan. Prinsip ini mendorong umat untuk tetap berpegang pada nilai tauhid sembari aktif menjawab persoalan kemanusiaan yang terus berkembang.

Pengajian Ramadan kali ini disebut Haedar sebagai momentum strategis untuk mempertegas arah gerakan Muhammadiyah di tengah tantangan global. Ia berharap forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan ruang konsolidasi ideologis yang memperkuat komitmen kader.

Di tengah derasnya arus informasi dan penetrasi budaya global, umat Islam, kata Haedar, memerlukan kedalaman spiritual sekaligus keluasan intelektual. Kombinasi keduanya diyakini mampu melahirkan generasi yang percaya diri, kreatif, dan berdaya saing tanpa kehilangan identitas.

“Dengan akidah yang berorientasi pada kemajuan, kita bisa menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,” pungkasnya.

Melalui penguatan fondasi ideologis tersebut, Muhammadiyah diharapkan tetap konsisten menjadi motor perubahan sosial dan peradaban, sekaligus menjaga relevansi gerakan dalam menghadapi dinamika zaman yang terus bergerak cepat.

Tags

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB