Dia merupakan salah seorang petisioner masalah Sahara Barat di PBB New York. Dia telah tiga kali tampil di forum tersebut, yakni pada 2011, 2012, dan 2023. Selain itu Teguh juga menjadi observer pemilu di Federasi Mikronesia (2009), Maroko (2011), dan Venezuela (2018 dan 2022).
Baca Juga: Pemprov Jateng Minta Pembangunan Pelabuhan Kendal Segera Direalisasikan
Teguh menyelesaikan pendidikan S-1 dari Universitas Padjadjaran Bandung dan S-2 dari University of Hawaii at Manoa (UHM), Amerika Serikat.
Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi Digital Buka Peluang Sektor UMKM untuk Bertumbuh Lebih Besar
Dia juga pernah menuntut ilmu di National University of Singapore (NUS). Kini Teguh sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di Jurusan Hubungan Internasional Unpad.
Baca Juga: Aparat Keamanan Jamin Keamanan dari KKB Pasca Pemungutan Suara di Papua
Pria berbadan besar ini juga penulis buku yang cukup produktif, diantaranya “Komisi I” (2009), “Di Tepi Amu Darya” (2018), “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” (2018), dan “Buldozer dari Palestina” (2022).
Baca Juga: Daftar Dosa-Dosa Anggota KKB Alenus Tabuni Yang Ditangkap Satgas Ops Damai Cartenz
Teguh juga mengantongi penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk sejumlah kegiatan. *