nasional

Wajah Baru Katedral Makassar Menyambut Natal

Selasa, 5 Desember 2023 | 04:02 WIB

MAKASSAR.Suarapembaruan.news- Gereja Katerdral berdiri megah di Jalan Kajoalaliddo 14, Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Bangunan itu tercatat sebagai salah satu Cagar Budaya peninggalan pada masa Kerajaan Gowa. Kini, bangunan itu sedang mengalami  perluasan tanpa  mengubah wajah depan dan fungsinya sebagai cagar budaya.

Perubahan wajah belakang Katedral tampak dengan munculnya bangunan baru yang menjulang tinggi, dilengkapi dua menara di kiri dan kanan, melampauhi ketinggian menara aslinya. Informasi yang dihimpun SP.news, Selasa (5/12/2023), semua itu dikerjakan secara swadaya, dibiayai dari kumpulan sumbangan jemaah dan targetnya rampung sebelum Natal 2023.

Katedral Makassar adalah saksi sejarah masa lampau yang membuktikan bahwa toleransi hidup beragama di lingkungan Kerajaan Gowa, kerajaan terbesar di timur Indonesia yang saat itu wilayahnya termasuk Kota Makassar, telah tumbuh sejak lama.

Kerajaan Gowa dan rakyatnya mulai memeluk agama Islam tahun 1603, pada saat Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna, memegang tahta 1593-1693.

Ketika  Sultan Hasanuddin, cucu Sultan Alauddin menjadi Raja Gowa  XVI berkuasa tahun 1653-1669. Gowa berada pada puncak kejayaaannya. Pada saat itu juga gelombang migrasi warga asing terjadi bersamaan runtuhnya benteng Portugis di Malaka. Orang-orang Portugis mengungsi ke Makassar. Mereka disambut baik, pastor-pastornya diberi keleluasaan menjalankan tugasnya di Makassar, wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa.

Mgr N Schneiders CICM dalam catatan yang dibuatnya 15 Pebruari 1961  tentang gereja Katolik di Sulawesi Selatan dan Tenggara, menyebutkan, Fernendez Navarette adalah pastor pertama yang masuk ke Makassar tahun 1658,. Fernandez diperlakukan dengan baik oleh pejabat Kerajaan Gowa pada masa itu.

Fernandez justru kemudian mengalami kesulitan saat Kompeni Belanda yang dikenal dengan sebutan VOC  (Verenigde Oost Compagny) menduduki pulau-pulau di Indonesia. Dan 19 Agustus 1660, Gowa juga terpaksa meletakkan senjata dan menandatangani persetujuan di Batavia.

Selama pemerintahan Belanda, kemerdekaan agama bagi Gereja Katolik di Indonesia barulah dapat dirasakan tahun 1806,  ketika Napoleon mengangkat saudaranya Louis menjadi raja negeri Belanda, sebab keduanya beragama Katolik.  10 April 1808 dua pastor tiba di Batavia dan menjadi Imam Katolik pertama yang diizinkan masuk Indonesia.

Pada tahun 1852 seorang pastor ditugasi ke Makassar, tetapi 1892 barulah pastor A Asselbergs SJ menetap di sana dan menyewa salah satu rumah (sekarang di Jalan Hasanuddin) untuk dipergunakan sebagai tempat kebaktian. Enam tahun kemudian, didirikanlah  gereja di Jalan Kajoalaliddo atas restu dari Raja Gowa XXXII, Sultan Qadir Aididdin. Bangunan itu menjadi Gereja Katedral Uskup Agung Makassar.

Dari katedral tersebut, pastor Kapell melakukan konsentrasi perjalanan keliling ke pedalaman sampai ke Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Karena wilayah kerja pastor sangat luas, tahun 1925 didatangkan lagi pastor Pater C de Bruijn bersama pastor Hendriks ke Makassar untuk membantunya.

Tahun 1929 ditetapkan seorang pastor di Raha dan tahun 1931 dibuat rumah sakit,  mendatangkan suster dari Makassar, mendirikan sekolah misi hingga ke Lakapera, pedalaman Kabupaten Muna.

Di Tana Toraja agama Katolik juga memperoleh kemajuan dan di sana dibangun gereja tahun 1935.

Arsitektur Katedral

Gereja Katedral adalah bangunan yang tidak sepenuhnya meniru aksitertur Eropa.  Arsitek bangunan yang tampak saat ini berawal dari karya seorang perwira zeni, arsitek Swartbol. Namun, bangunan belum rampung Swartbol berangkat ke Eropa dan digantikan S Fischer, seorang ahli pengairan.

Beberapa kali gereja itu dirombak karena Fischer tidak menguasai arsitektur gotik, sebagaimana digambarkan Swartbol. Seorang cina bernama Thio A Tek menjadi pemborong dan pelaksana pekerjaan pembangunan. Bangunan itu sempat tersendat lama karena menunggu rangka jendela besi dari Nederland.

Tahun 1923, Mr Scharpf menghadiahkan tiga buah lonceng dan dipasang di menara besi yang besar di sebelah selatan gereja. Menara itu akhirnya dibongkar karena tidak estetis, dan tahun 1939 pastor bekerjasama CMS (Celebes Missie Steunfonds) mendirikan menara baru dan dirampungkan dalam setahun.

Tahun 1943 Makassar di bom oleh tentara sekutu, mengakibatkan beberapa bagian gereja rusak. Atas bantuan dermawan,  gereja itu mendapat sumbangan kaca jendela grasir berwarna yang memberikan nuansa khas katedral.

Meskipun bangunan tersebut sudah beberapa kali direnovasi dan mengalami perubahan, terutama di samping gereja terdapat ruang pastoral dan kantor. Namun, gaya khas peninggalan arsitek Swartbol masih tampak jelas.

Gereja itu sangat terawat dan bersih. Pemerintah menjadikan sebagai salah satu situs cagar budaya dan sering dikunjungi wisatawan asing. (SP.news/ M Kiblat Said)

Tags

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB