Malang, suarapembaruan.news -Pemerintah Provinsi Jawa Timur, bersama Pemerintah Kabupaten dan Pemkot Malang, tengah fokus menangani korban tewasnya suporter maupun yang mengalami luka berat di rumah sakit di Malang.
Penanganan di Rumah Sakit Saiful Anwar, RS milik Pemprov Jatim, akan ditanggung oleh pemprov. Sedangkan yang ditangani RSUD ditanggung pemda setempat.
Bagi korban yang meninggal dunia akan mendapat satunan sebesar Rp 10 juta. Sedangkan korban luka berat akan mendapatkan Rp 5 juta dari Pemprov Jatim.
Kerusuhan terjadi setelah tim Arema Malang menderita kalah dari tamunya Persebaya Surabaya 2-3, di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu malam.
Dalam tragedi memilukan tersebut sebanyak 179 orang meninggal. Termasuk dua petugas kepolisian.
Para suporter Arema, langsung masuk lapangan, setelah pertandingan berakhir. Mereka mencari pemain, pelatih dan ofisial Arema. Suporter juga merusak bahkan membakar sejumlah mobil.
Melihat pendukung Arema semakin tidak terkendali, aparat keamanan kemudian menembakkan gas air ke lapangan, bahkan mengenai penonton di tribun.
Suporter selanjutnya berebut untuk ke luar stadion. Ini sulit dilakukan karena saling mendahului ke luar. Penonton dilaporkan banyak yang terinjak dan situlah banyak terjadi korban jiwa.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyesalkan terjadinya insiden yang menewaskan 179 orang supporter, dalam laga Derby Jatim antara Arema FC vs Persebaya Surabaya.
“Peristiwa ini harus menjadi pembelajaran dan pendewasaan kita bersama, seluruh insan olahraga dan pecinta sepakbola Indonesia agar menjunjung tinggi sportivitas dalam setiap pertandingan," ungkap Khofifah saat ditemui di Kota Malang, Minggu (2/10/2022).
Ia, menyebut, insiden Kanjuruhan, tidak hanya menjadi duka Jawa Timur, namun juga duka Indonesia dan duka dunia olah raga. Diharapkan, kejadian ini tidak terulang di masa yang akan datang.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Menteri Sosial ini juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban dan keluarga. (SPnews/Teguh LR)