nasional

Ikan Asar dari Kampung Bright Gas: Kisah Mama-Mama Jayapura Menyulam Rasa di Tengah Asap

Senin, 6 Oktober 2025 | 19:33 WIB
Mama Selvia, seorang penyair tanpa kata, menorehkan cerita di setiap bilah ikan yang diasapinya. Baginya, mengolah ikan asar bukan sekadar pekerjaan, melainkan tarian penuh makna (Humas Pertamina)

Jayapura, SUARAPEMBARUAN - Di ujung timur negeri, di kota Jayapura yang dipeluk laut biru, ikan-ikan tuna ekor kuning dan cakalang menari dalam jaring nelayan, membawa berkah bagi daratan. Di antara debur ombak dan aroma garam, hiduplah sebuah tradisi yang mengalir seperti puisi tentang ikan asar, olahan khas yang menjelma dari tangan-tangan mama-mama di Dok 8. Di sana, di bawah langit yang merona jingga, mereka merajut cita rasa, menabur harapan, dan menyalakan bara kehidupan.

Mama Selvia, seorang penyair tanpa kata, menorehkan cerita di setiap bilah ikan yang diasapinya. Baginya, mengolah ikan asar bukan sekadar pekerjaan, melainkan tarian penuh makna. Namun, di balik keharuman asap, ada perjuangan tentang kayu bakar yang kian sulit dicari, waktu yang panjang menanti ikan matang, dan arang yang harus disuling untuk menjaga jiwa rasa khas Papua.

“Dulu, kami berjuang dengan apa adanya,” kenangnya, suaranya lembut namun penuh tekad, “tapi kini, tangan-tangan kami dibimbing cahaya baru.”

Cahaya itu bernama Kampung Bright Gas, sebuah inisiatif yang lahir dari pelukan hangat Pertamina dan Dompet Dhuafa. Bersama 21 mama-mama lainnya, Mama Selvia kini menari dalam harmoni baru.

Mereka diberi smoke house yang menjelma seperti tungku ajaib, alat vakum yang menyegel kesegaran, timbangan digital yang menimbang impian, dan tabung Bright Gas yang menyulut api tanpa merenggut hutan.

Lebih dari itu, mereka belajar menenun rasa baru adalah abon ikan yang renyah dan sambal ikan asar yang menggigit, siap memikat lidah di luar batas Papua.

“Dengan Bright Gas, asap kami kini lebih ramah, proses lebih cepat, namun hati ikan asar tetap terjaga,” ujar Mama Selvia, matanya berbinar. Arang tetap mereka tabur, bagai mantra yang menjaga warisan leluhur.

Kini, setiap hari, 15 hingga 20 ikan asar lahir dari tangan-tangan mereka, meluncur ke pasar-pasar Jayapura, membawa nama Dok 8. Sertifikasi halal dan Nomor Induk Berusaha telah mereka genggam, sementara izin Pangan Industri Rumah Tangga sedang dirajut, menjanjikan pintu ke pasar yang lebih luas.

Di tengah gemuruh zaman, mama-mama ini juga belajar menari di dunia maya. Dengan ponsel di tangan, mereka mulai merangkai cerita di media sosial, mengundang dunia untuk mencicipi ikan asar khas Jayapura. “Kami ingin ikan asar ini tak hanya dikenal di Papua, tapi juga terbang jauh, ke meja-meja di ujung negeri,” kata Mama Selvia, suaranya penuh mimpi.

Melalui Kampung Bright Gas, Pertamina Patra Niaga menabur benih keberlanjutan, menyelaraskan langkah dengan Sustainable Development Goals yaitu pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, serta inovasi industri yang membumi.

“Kami ingin mama ini terus menari, menyulam cita rasa dan impian,” tutur Ispiani Abbas, Area Manager Communication Relations & CSR Papua Maluku, bagai menegaskan bahwa setiap asap yang mengepul dari Dok 8 adalah napas kehidupan yang tak pernah padam.

Di Jayapura, di tengah asap dan aroma ikan asar, mama-mama Dok 8 sedang menulis puisi abadi tentang keberanian, tentang warisan, tentang harapan yang terus menyala.*

Tags

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB