Surabaya, SUARA PEMBARUAN – Sebanyak 30 dari 20 ribu karya inovasi pendidikan, terpilih sebagai paling visioner, aplikatif, dan berdampak nyata bagi kualitas pendidikan di Jawa Timur. Karya terpilih melalui seleksi yang ketat akademisi, media dan Dinas Pendidikan Jatim.
Sebagai bentuk apresiasi, 30 inovasi terbaik mendapat trofi, plakat, dan uang pembinaan Rp 50 juta. Selain itu, 51 guru dan tim sekolah juga menerima penghargaan.
Pemberian penghargaan dalam ajang East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2025, diberikan langsung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Kamis (28/8/2025) malam.
Tingginya peserta SMA/SMK/SLB mengirimkan karya inovasi pendidikan ini menurut gubernur, menunjukkan kesiapan dunia pendidikan menghadapi era digital dan transformasi global.
Ide yang lahir dari satu sekolah harus mampu menginspirasi sekolah lain. Inovasi pembelajaran yang lahir di Surabaya harus bisa menginspirasi Madura atau Banyuwangi. Begitu pula dari Pacitan atau Ponorogo bisa menjadi referensi bagi Malang dan kota-kota lainnya di Jatim.
Lebih dari itu dikatakan Khofifah, menunjukkan komitmen Jawa Timur yang kuat dalam memperluas kesempatan belajar dan memperbaiki kualitas pendidikan, sekaligus menjadi perwujudan Nawa Bhakti Satya, khususnya Bhakti ke-5, yaitu Jatim Cerdas.
Prestasi siswa juga konsisten meningkat. Enam tahun berturut-turut (2020–2025), Jatim menjadi provinsi dengan jumlah siswa terbanyak diterima jalur SNBP. Sementara itu, SMK Jatim tiga kali berturut-turut meraih juara umum LKS Nasional (2023–2025).
Tingkatkan Mutu Pendidikan
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai dalam laporannya mangatakan, penyelenggaraan EJIES memberikan dampak signifikan bagi peningkatan mutu pendidikan di Jawa Timur.
Atmosfer kompetitif yang tercipta telah mendorong guru, siswa, dan sekolah untuk terus berlomba menciptakan inovasi yang berkualitas dan berdampak nyata bagi pembelajaran.
"Inovasi-inovasi yang tumbuh subur di lingkungan pendidikan ini sejalan dengan perkembangan teknologi yang menuntut dunia pendidikan terus beradaptasi dan bergerak mengikuti perubahan," ujarnya.