Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Dewan Jamu Indonesia bersama Universitas Gadjah Mada menggelar pertemuan yang mempertemukan para akademisi, peneliti, pemangku kepentingan kesehatan, komunitas budaya, serta tamu dari berbagai daerah dan mancanegara. Acara ini tidak hanya menegaskan jamu sebagai warisan budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat, tetapi juga mengangkatnya sebagai solusi kesehatan modern yang relevan dengan tantangan masa kini.
Dalam peringatan Hari Jamu Nasional pada Senin, 25 Mei 2026, di UGM, Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof Dr dr I Nyoman Kertia, SpPD-KR, bersama Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr Danang Sri Hadmoko, menyampaikan gagasan yang menyatukan tradisi dan ilmu pengetahuan. Mereka menjadikan jamu sebagai kebanggaan sekaligus masa depan kesehatan bangsa.
Nyoman Kertia dalam sambutannya menekankan bahwa jamu adalah identitas sekaligus jawaban atas kebutuhan kesehatan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa stunting masih menjadi pekerjaan besar bangsa dengan angka prevalensi mencapai 19,8 persen, yang berarti sekitar empat juta anak balita terdampak. Menurutnya, jamu yang dikemas secara modern, enak, dan sesuai dengan selera anak muda dapat menjadi alternatif solusi yang lebih ramah dan berkelanjutan. Ia juga mengaitkan semangat jamu dengan Peraturan Gubernur DIY Nomor 44 Tahun 2017 tentang Yogyakarta Sehat dan Lestari, yang menekankan pentingnya menjaga kelestarian, kenyamanan, kebersihan, keindahan, serta keramahan kota. Bagi Nyoman, jamu adalah bagian dari budaya peduli sesama yang harus terus dijaga.
Lebih jauh, ia menyoroti peran jamu dalam pencegahan penyakit degeneratif seperti stroke, jantung, dan kanker yang menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Jamu, herbal terstandar, dan obat modern, menurutnya, tidak boleh dipertentangkan, melainkan saling melengkapi. Ia juga menyebutkan ironi bahwa meskipun Indonesia memiliki kekayaan bioekstrak nomor satu di dunia, 94 persen bahan baku obat masih diimpor. Jamu, katanya, bisa menjadi jalan menuju kemandirian kesehatan sekaligus penggerak ekonomi dan pelestarian lingkungan. Dewan Jamu Indonesia bahkan mendorong agar jamu masuk dalam layanan BPJS Kesehatan sehingga masyarakat memiliki pilihan pengobatan yang lebih sehat dan terjangkau.
Sementara itu, Dr Danang Sri Hadmoko mewakili UGM menegaskan komitmen akademisi dalam mengembangkan penelitian jamu sebagai warisan budaya sekaligus solusi kesehatan. Ia menyebut bahwa Indonesia memiliki tiga kekayaan luar biasa, yaitu biodiversitas, geodiversitas, dan keragaman budaya. Kombinasi ini menjadi fondasi ekosistem jamu yang unik dan tidak dimiliki negara lain. Menurutnya, jamu bukan hanya bagian dari tradisi medis, tetapi juga warisan budaya takbenda yang mencerminkan kekayaan bangsa. UGM, dengan 18 fakultas dan berbagai pusat studi, aktif melakukan penelitian jamu dari berbagai sudut pandang. Fakultas Farmasi telah menghasilkan produk herbal dan bahkan mendirikan kafe jamu, sementara Fakultas Kedokteran, Pertanian, serta Ilmu Budaya berperan besar dalam mengkaji jamu dari aspek medis, keberlanjutan bahan baku, hingga konteks budaya.
Danang menekankan bahwa penelitian jamu di UGM tidak berhenti di laboratorium, melainkan menyentuh aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Ia menyoroti pentingnya ketersediaan bahan baku dan standardisasi pengolahan pascapanen yang dapat didukung oleh Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian. Menurutnya, industri jamu besar di Indonesia sudah menerapkan standar tinggi setara perusahaan farmasi, membuktikan bahwa jamu mampu bersaing di tingkat global. Namun, tantangan berikutnya adalah advokasi kebijakan agar jamu dapat diterima secara resmi dalam sistem kesehatan. Tegasnya, tantangan ke depan adalah bagaimana jamu tidak hanya menjadi pendamping, tetapi bisa diresepkan dan diakui sebagai bagian dari pengobatan.
Keduanya saling melengkapi dalam menyampaikan visi besar jamu. Nyoman Kertia berbicara dari perspektif gerakan masyarakat dan kebijakan kesehatan, sementara Danang Sri Hadmoko menekankan peran akademisi dan penelitian. Mereka sepakat bahwa jamu adalah warisan sekaligus masa depan kesehatan bangsa. Dengan dukungan lintas sektor, jamu dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan berdaya saing. Acara ditutup dengan ajakan untuk memperkuat kolaborasi lintas fakultas, organisasi profesi, komunitas budaya, dan pemerintah daerah dalam membangun industri jamu Indonesia. Nyoman mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjadikan jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat Indonesia, seruan yang kemudian diperkuat oleh Danang agar penelitian jamu terus dipromosikan dan dikembangkan.
Momentum ini ditutup dengan minum jamu bersama oleh seluruh peserta yang datang dari berbagai kalangan, sekaligus menegaskan bahwa jamu bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan strategi kesehatan dan ekonomi yang relevan dengan tantangan zaman. Di tengah ancaman penyakit degeneratif dan masalah gizi seperti stunting, jamu hadir sebagai solusi yang berakar pada budaya sekaligus menjawab kebutuhan modern. Dengan semangat kebersamaan antara Dewan Jamu Indonesia dan UGM, jamu diharapkan mampu menggelorakan kesehatan masyarakat, memperkuat kemandirian bangsa, dan menjadikan Indonesia sebagai pusat herbal dunia.
Artikel Terkait
Ratusan Siswa Jakarta Timur Diduga Keracunan MBG, Menu Pangsit Isi Tahu Jadi Sorotan
Viral Dugaan Keracunan MBG di Surabaya, 75 Siswa dan Guru Tumbang usai Makan Krengsengan Daging
Polda Bengkulu Pastikan Penanganan Dugaan Ancaman Wartawan Dilakukan Profesional
Ledakan Gas 12 Kg Hancurkan Rumah di Tambora, Lansia Dilarikan ke Rumah Sakit
Waka BGN Perkuat Koordinasi dengan Polri, Pastikan Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG Ditindak Tegas