Surabaya, SUARA PEMBARUAN - Proyeksi kebutuhan sapi kurban di Jawa Timur, 70.550 ekor. Sedangkan ketersediaan hewan ini 629.119 ekor. Sehingga surplus 558.569 ekor.
“Kondisi ini menunjukkan Jatim surplus cukup signifikan diseluruh jenis ternak kurban. Ketersediaan hewan kurban sangat cukup, siap menopang provinsi lain,” ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meninjau sentra peternakan UD Sapi Baru di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (2/5/2026).
Dikatakan, untuk hewan kambing proyeksi kebutuhan 297.900 ekor dengan ketersediaan sebanyak 940.693 ekor sehingga surplus 642.793 ekor.
Begitu pula Domba proyeksi kebutuhannya adalah 58.600 ekor, ketersediaan 484.468 ekor sehingga surplus 452.868 ekor.
Sedangkan untuk kerbau, proyeksi kebutuhan 10 ekor, ketersediaan sebanyak 1.698 ekor sehingga surplus 1.688 ekor.
“Ternak kurban di Jawa Timur tersedia untuk mencukupi ternak kurban dan terjamin kesehatannya karena telah dilakukan vaksinasi, biosecurity dan pengobatan ternak,” tegasnya.
Bagi Pemerintah Provinsi Jatim, selain memastikan kuantitas, juga terus melakukan pengawasan terhadap kesehatan hewan ternak guna menjamin kualitas dan kelayakan hewan kurban yang beredar di masyarakat.
Bahkan, guna menjamin keamanan dan kesehatan hewan kurban yang ada di Provinsi Jawa Timur maka disediakan petugas pemeriksa hewan kurban (pemeriksaan sebelum dipotong pemeriksaan ante mortem dan pemeriksan setelah dipotong/ pemeriksaan post mortem) Provinsi Jawa Timur.
Khofifah menyebut, Disnak Jatim telah menyediakan petugas pemeriksa hewan kurban yang terdiri dari Dokter Hewan Medik Veteriner 950 orang, Paramedik Veteriner 1.500 orang, pengawas bibit ternak 145 orang, pengawas mutu pakan 75 orang serta Juru Sembelih Halal (JULEHA) Bersertifikat 1.997 orang.
“Jelang Idul Adha, kami terus mengerahkan tim pemeriksa kesehatan hewan dari dinas terkait untuk memantau, memeriksa, dan memastikan semua hewan kurban bebas dari penyakit, terutama PMK maupun LSD. Kami memastikan bahwa hewan ternak sehat dan dagingnya layak untuk dikonsumsi,” lanjutnya.
“Jadi kalau pemeriksaan ante mortem dan post mortem atas Sapi sebagai hewan kurban, mungkin ini baru kita lakukan tahun kemarin karena ada PMK itu. Maka kita bisa memastikan kapan ada indikasi PMK, maka Pasar Hewan terdekat kita minta untuk tidak beroperasi dulu. Selalu begitu dua tahun terakhir,” tutupnya.
Artikel Terkait
Misi Dagang Jatim–Kalteng Bukukan Transaksi Rp2,082 Triliun
Misi Dagang Jatim-Malaysia Catatkan Transaksi Rp15,25 Triliun
Gubernur Jatim Tidak Ingin Ada Satu pun Anak Tertinggal pendidikannya