Tembus 1 Juta Kasus, Rendahnya Literasi Masyarakat dalam Mengenali Gejala TBC

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Senin, 6 April 2026 | 17:01 WIB
dr. Rina Triasih, Dosen Fakultas Kedokteran UGM. Dok. Ist
dr. Rina Triasih, Dosen Fakultas Kedokteran UGM. Dok. Ist

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan terbesar di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan jumlah kasus TBC diperkirakan mencapai 1.060.000 kasus per tahun. Dengan angka tersebut, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan kasus TBC terbanyak setelah India. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa penanganan TBC tidak cukup hanya mengandalkan intervensi medis, tetapi juga membutuhkan pendekatan sosial, edukatif, dan struktural yang lebih luas.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D., Sp.A(K), menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara jumlah kasus yang diperkirakan dengan yang berhasil terdeteksi. Menurutnya, kondisi ini menjadi tanda bahwa upaya penemuan kasus belum berjalan optimal, sehingga masih banyak penderita yang berada di luar sistem layanan kesehatan dan berpotensi menularkan penyakit.

Ia menjelaskan bahwa dari estimasi sekitar satu juta kasus, baru sebagian yang benar-benar teridentifikasi secara medis. Selisih ini mencerminkan berbagai hambatan di lapangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak gejala awal, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga minimnya literasi dalam mengenali tanda-tanda TBC. Banyak masyarakat belum memahami bahwa batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga keringat malam bisa menjadi gejala awal yang perlu segera diperiksa.

Rina menambahkan, pasien yang belum terdiagnosis menjadi sumber penularan baru di lingkungan sekitarnya. Setelah pandemi COVID-19, jumlah kasus yang ditemukan justru meningkat. Kondisi ini bisa disebabkan oleh bertambahnya kasus atau meningkatnya kemampuan deteksi pemerintah terhadap kasus yang sebelumnya tersembunyi.

Sebagai bagian dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, ia terlibat dalam pengembangan strategi Active Case Finding (ACF), yaitu metode penemuan kasus secara aktif dengan mendatangi masyarakat secara langsung. Program yang dijalankan sejak 2020 melalui inisiatif Zero TB Yogyakarta ini menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk menjangkau masyarakat, baik yang bergejala maupun tidak. Pendekatan ini dinilai efektif karena tidak menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, melainkan langsung menjemput kasus di lapangan.

Selain itu, tantangan lain yang tidak kalah serius adalah munculnya TBC resisten obat. Kondisi ini umumnya terjadi karena pasien tidak menyelesaikan pengobatan. Banyak pasien menghentikan konsumsi obat setelah merasa lebih baik dalam dua bulan pertama, padahal pengobatan TBC harus dijalani hingga tuntas. Ketidakpatuhan ini menyebabkan bakteri menjadi kebal, sehingga pengobatan menjadi lebih lama, kompleks, dan membutuhkan lebih banyak obat.

Rina menegaskan bahwa penanganan TBC harus melihat faktor sosial yang turut memengaruhi penyebaran penyakit. Stigma, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, hingga lingkungan tempat tinggal berperan besar. Hunian yang padat dan kurang layak, misalnya, mempercepat penularan antaranggota keluarga sehingga penyakit sulit dikendalikan.

Karena itu, edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih inovatif dan mudah dipahami. Tidak cukup hanya melalui poster atau selebaran, tetapi juga melalui metode interaktif seperti menghadirkan penyintas TBC dalam diskusi publik atau kampanye berulang yang membangun kesadaran kolektif.

Ia juga menyoroti tantangan geografis Indonesia yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan, terutama di luar Pulau Jawa. Hal ini menjadi hambatan dalam pemerataan deteksi dan pengobatan TBC di berbagai daerah.

Sebagai langkah strategis, Rina mendorong penerapan pendekatan komprehensif melalui tiga pilar utama, yaitu pencarian kasus secara aktif, pemberian pengobatan hingga tuntas, dan upaya pencegahan melalui edukasi. Dengan pelaksanaan yang konsisten dan kolaborasi berbagai pihak, ia optimistis target eliminasi TBC pada 2030 dapat tercapai.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X