Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Di sudut-sudut kota Indonesia, bangunan-bangunan pusaka berdiri dalam diam, menyimpan kisah, merawat ingatan, dan menjadi saksi perjalanan zaman yang terus bergerak maju. Dari masa kolonial hingga awal kemerdekaan, jejak sejarah itu masih terpatri dalam wujud arsitektur yang tak sekadar kokoh, tetapi juga penuh makna.
Di Yogyakarta, misalnya, Tugu Pal Putih berdiri anggun seolah menjaga denyut kota. Tak jauh, Benteng Vredeburg memeluk cerita perjuangan, sementara Panggung Krapyak dan Gedung Pusat UGM menjadi penanda perjalanan panjang budaya dan ilmu pengetahuan.
Begitu pula di Jakarta, Monumen Nasional menjulang sebagai simbol harapan, berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta yang khusyuk, Istana Merdeka yang sarat sejarah, serta Masjid Istiqlal yang megah dan penuh spiritualitas.
Bangunan-bangunan ini bukan sekadar susunan batu, beton, dan kayu. Ia adalah puisi yang ditulis oleh waktu—karya para arsitek yang setiap goresannya mengandung jiwa dan cerita. Tak heran jika dedikasi mereka dikenang setiap Hari Arsitektur Indonesia, sebagai penghormatan pada para perancang ruang kehidupan.
Menurut Bakti Setiawan, Guru Besar Ilmu Perencanaan Kota Fakultas Teknik UGM, pelestarian bangunan pusaka bukan hanya soal menjaga fisik bangunan, melainkan merawat ingatan kolektif. “Bangunan adalah saksi bisu perjalanan kota dan masyarakatnya,” ungkapnya, Selasa (31/3).
Dalam pandangannya, setiap bangunan cagar budaya adalah bagian dari narasi besar yang membentuk identitas kota. Ia menghadirkan karakter, memberi wajah, sekaligus mengundang dunia luar untuk mengenal lebih dalam kisah yang tersimpan di balik dinding-dinding tua itu.
Lebih dari sekadar romantika masa lalu, bangunan pusaka juga menyimpan potensi masa depan. Ia dapat hidup kembali sebagai ruang wisata, pendidikan, hingga penggerak ekonomi. Dalam pengelolaan yang tepat, bangunan lama dapat bertransformasi tanpa kehilangan jiwanya.
Bakti juga menyinggung bahwa konsep cagar budaya mencakup lebih dari sekadar bangunan. Ia meliputi benda, struktur, situs, hingga kawasan—semuanya terikat dalam satu benang merah: menjaga warisan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Di tengah arus modernitas, muncul pula gagasan kembali ke material lokal—sebuah pendekatan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menghadirkan sentuhan keaslian. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki cerita materialnya sendiri; dari lempung hingga ilalang, semuanya mencerminkan kearifan lokal yang tak bisa diseragamkan.
Dalam refleksi yang lebih personal, Bakti menuturkan bagaimana penggunaan material tradisional seperti genteng lokal mampu menghadirkan ruang yang lebih sejuk, terang, dan nyaman—sebuah harmoni antara manusia dan lingkungannya.
Pada akhirnya, arsitektur bukan hanya tentang membangun ruang, tetapi merangkai kehidupan. Dalam ungkapan sederhana yang sarat makna—“Better Space, Better Living”—terdapat harapan bahwa setiap ruang yang diciptakan mampu menghadirkan kehidupan yang lebih baik.
Dan di sanalah bangunan pusaka menemukan romansa sejatinya: bukan sekadar berdiri melawan waktu, tetapi terus hidup—dalam kenangan, dalam cerita, dan dalam hati mereka yang mau berhenti sejenak untuk mendengarkannya.
Artikel Terkait
Wali Kota Baubau Gembira, Pertamina Pastikan Stok BBM Aman Jelang Idul Fitri
Libur Lebaran, Kunjungan Wisatawan ke Jatim 5,31 Juta Turis
Investasi Walet Fiktif Terbongkar, Rp78 Miliar Raib Digasak Pelaku
Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan