Tahun ini, masa panen antara bulan Nopember, Desember dan Januari, dari ratusan pohon durian yang dirawatnya pihaknya mengaku telah memanen sebanyak 2 ton lebih buah durian. Soal harga, menurutnya, hasil panen tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Harga per kilo saat ini mencapai antara Rp. 75 ribu sampai Rp. 90 ribu, dibanding sebelumnya yang hanya berkisar Rp. 60 ribu sampai Rp. 70 ribu per kilonya.
Meski dari segi kualitas harga lebih baik namun dari segi kuantitas perolehan hasil panen, menurutnya, cenderung berukurang dibanding tahun sebelumnya, yang diperkirakan karena aspek cuaca sebagai pemicunya. Dan hal itu sebagai sisi yang tidak bisa dihindari para petani, dalam hal merawat dan mengembangkan pertanian durian secara umum.
Di wilayah Desa Segulung, katanya, terdapat ribuan pohon durian dari berbagai jenis yang tersebar di lima kelompok petani durian. Kelompok petani durian itu masing-masing Kelompok Selatan yang diketuai Azis, Utara diketuai Didik, Timur diketuai Hardo, sedangkan kelompok Barat dan Tengah diketuai Harwadi sendiri.
Terkait usia pohon durian, mulai berbuah, yakni 7 tahun pasca tanam, sampai tidak mampu memproduksi buah bisa mencapai lebih 100 tahun. Dan pola penanaman yang dilakukan para petani dengan mengembangkan dua cara, yakni generatif (biji durian) dan vegetatif (okulasi), dimana kedua cara itu tidak menghilangkan rasa tetap dan permanen dari induknya.
"Saya bangga menikmati buah durian Kawuk Raja hasil para petani nasional. Daripada durian Musang King yang asli Malaysia itu. Toh rasanya juga malah lebih gurih-gurih sedap Kawuk Raja ini ketimbang Musang King. Ini bisa berhari-hari nyantol di lidah," nilai Yuli dan Purwadi, jurnalis lokal setempat. (SP.news)