international

Debat Capres Perdana: Siapa yang Paling Mampu Menurut Diaspora di Eropa?

Jumat, 15 Desember 2023 | 23:50 WIB

 

SuaraPembaruan.News, EROPA - Debat Capres perdana yang berlangsung 12 Desember lalu menuai bermacam reaksi dan tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Tak terkecuali dengan diaspora Indonesia di Eropa juga banyak yang ikut menyaksikan penampilan dari para calon presiden yang ditampilkan secara langsung malam itu.

Ketika dihubungi dan diminta pendapat terkait debat perdana capres tersebut, *Sakaria Wielgosz*, relawan dari 'Europe for Ganjar-Mahfud' (Eropa untuk Ganjar-Mahfud) yang merupakan bagian dari gerakan *'World for Ganjar-Mahfud'* di Eropa menyampaikan beberapa hal yang menurutnya sangat penting untuk diperhatikan.

"Dalam debat capres ini, semua kandidat menyampaikan gagasan terkait pemberantasan korupsi, penegakan hukum dan HAM, perbaikan sistem tata kelola negara, transparansi, dan lain sebagainya. Tapi jika kita perhatikan dengan seksama, hanya Ganjar yang menyampaikan secara terperinci apa dan bagaimana langkah untuk mencapai gagasan tersebut”, imbuhnya.

"Terkait pemberantasan korupsi, hanya Ganjar yang secara tegas dan berani menyatakan untuk melanjutkan undang-undang terkait memiskinkan dan perampasan aset koruptor, termasuk mengirimkan para koruptor ke Nusakambangan. Sekali lagi, ini menunjukkan komitmen pasangan Ganjar-Mahfud dalam pemberantasan korupsi”, tambahnya.

Sakaria juga menambahkan ada hal lainnya yang juga menarik perhatian dirinya dalam debat capres yang lalu, dimana seluruh capres mengangkat isu penegakan hukum di Indonesia. Akan tetapi, dirinya mengatakan bahwa penegakan hukum saja tidak cukup. "Kenyataan yang menyedihkan bahwasanya hukum di Indonesia dapat dilahirkan dari suatu proses yang mengesampingkan bahkan melanggar etika ini tidak dapat dibiarkan, karena itu adalah jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum itu sendiri”, ujarnya.

"Jadi penegakan hukum saja tidak cukup jika proses pembuatan hukum itu sudah tercemar dalam hal etika dan moral. Indonesia harus memiliki hukum yang bersih dan berintegritas sebelum kita berbicara tentang penegakan hukum”, ujar Sakaria.

“Ada yang menarik yang harus kita perhatikan bersama-sama dalam penyataan Ganjar tadi malam. Beliau mengajak kita semua untuk memberikan perhatian penting pada konsistensi antara pikiran, perkataan dan perbuatan”.

Sakaria kemudian menambahkan, bahwa sebagai calon pemilih yang baik, kita harus bisa mengukur konsistensi ini, apakah yang dikatakan para capres sesuai dengan rekam jejak dan bukti-bukti pencapaian mereka selama ini.

“Kita harus memilih calon presiden yang bukan hanya mampu melanjutkan pencapaian era presiden Jokowi, namun juga yang patuh pada hukum dan setia pada rakyat, dengan keahlian dan pengalaman yang cukup untuk melanjutkan serta meningkatkan apa yang sudah dicapai”, imbuhnya.

“Nilai-nilai dan kemampuan untuk melanjutkan pembangunan ini hanya dimiliki oleh pasangan Ganjar-Mahfud, karena mereka bukan hanya berjanji, melainkan mereka telah teruji”, ujar Sakaria.

Terkait dengan debat cawapres, Sakaria menyatakan bahwa cawapres bukan sekedar calon wakil dari siapapun presiden yang terpilih nantinya. Cawapres juga berpeluang menggantikan presiden apabila presiden yang menjabat tidak mampu melanjutkan jabatannya.

“Untuk itu, kita perlu mengetahui kemampuan dari seorang cawapres, lebih dari sekedar pemberitaan media dan gimmick politik. Dan ajang debat itu harusnya menjadi salah satu wadah yang efektif untuk mengevaluasi dan mengenal lebih jauh kemampuan dari calon-calon wapres yang akan datang”, ujar Sakaria.( Timi )

 

Tags

Terkini