Baca Juga: Kepala Distrik Terlibat Jaringan KKB Nduga Sebagai Pemasok Senjata Api dan Amunisi
Ia menyampaikan komitmen Indonesia dalam mendorong percepatan sistem pangan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan serta upaya pemenuhan ketersediaan pangan bagi 278 juta rakyat Indonesia.
Ia meneruskan untuk penanganan jangka pendek dampak krisis, Pemerintah memprioritaskan penyediaan safety net program bagi vulnerable communities, terutama petani skala kecil dan nelayan.
Baca Juga: Prabowo Apresiasi Tangan Bionik Produk Inovatif Undip
Sedangkan dalam jangka panjang, upaya konkret Pemerintah dilakukan melalui penguatan dan perluasan pusat-pusat produksi pangan nasional, utamanya optimasi pengelolaan lahan rawa existing serta perluasannya serta modernisasi pertanian melalui mekanisasi dan digitalisasi, hingga upaya regenerasi petani dan penguatan peran petani milenial.
Baca Juga: Terima Bantuan Kementerian Kesehatan, RSND Undip Kini Miliki MRI 1.5 Tesla
“Indonesia juga mengusulkan pengembangan sistem perbenihan nasional dengan dukungan teknologi modern, kami juga mengundang kolaborasi global atas inisiatif ini,” ujar Prihasto.
Selain itu, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera menyampaikan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi penyelamatan pangan (saving food saving water).
Baca Juga: Jokowi Resmikan Sejumlah Proyek di Sulsel
Ia menjelaskan pentingnya Science, Technology and Information (STI) untuk mencapai SDGs zero hunger.
“Untuk mengantisipasi penyelamatan pangan, dapat kita lakukan dengan pengurangan food losses dan food waste. Termasuk pemanfaatan digital pada prakteknya, untuk itu Pemerintah Indonesia mendukung adanya program Digital Village Initiative” ujarnya.
Dida didampingi Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian dan Delegasi dari Kementerian Luar Negeri juga akan melaksanakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian Vietnam sebagai tindak lanjut kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Vietnam pada Januari 2024 untuk membahas mengenai peningkatan kerjasama dan investasi terkait sektor pangan dan pertanian, termasuk pembahasan aspek halal di Indonesia.
Sementara itu, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal mengatakan posisi Indonesia semakin strategis dalam isu pangan dunia. Hal ini terlihat dari bagaimana Indonesia diminta berbagi pengalaman dan solusi di tujuh ministerial meeting dari total 10 pertemuan yang ada. “Kami secara aktif berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia dan masyarakat lokal untuk meningkatkan sektor pertanian Indonesia terhadap krisis seperti perubahan iklim,” ujarnya.
“Partisipasi strategis Indonesia dalam konferensi ini penting untuk membantu memandu kerja FAO di Indonesia serta kawasan Asia-Pasifik untuk mencapai tujuan yang sama, mencapai SDGs tahun 2030,” imbuh Rajendra.
Dalam dua tahun terakhir sejak pandemi kondisi pangan kawasan Asia-Pasifik mengalami kemunduran dalam upaya memerangi kelaparan. Maka sangatlah penting untuk melakukan transformasi sistem pangan di kawasan ini agar menjadi lebih efisien, inklusif, berketahanan, dan berkelanjutan.