Semarang, suarapembaruan news - Pihak rektorat Universitas Diponegoro (Undip) membantah jika Aulia Risma Lestari,
mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis atau PPDS Anestesi nekad bunuh diri akibat korban bullying di kampus.
Korban ditemukan tewas di kamar kosnya di Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur, pada Senin (12/8).
Melalui Utami Setyowati selaku Manager Layanan Terpadu dan Humas Undip, Rektor Undip mengatakan, korban Aulia Risma Lestari dikenal sosok mahasiswi yang berdedikasi dalam pekerjaannya.
Meski begitu, ungkap Utami, korban mempunyai problem kesehatan sehingga mempengaruhi proses belajar yang sedang ditempuh.
"Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai konfidensialitas medis dan privasi korban, kami tidak dapat menyampaikan detail masalah kesehatan yang dialami selama proses pendidikan, jadi masalah ini bukan karena perundangan akan tetapi masalah kesehatan korban," ucap Utami saat ditemui wartawan, Kamis (15/8).
Utami menuturkan jika korban sempat menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri akibat kondisi kesehatannya. Akan tetapi, karena merupakan penerima beasiswa, korban terganjal beberapa aturan.
"Berdasarkan kondisi kesehatannya, Almarhumah sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri, namun karena beliau adalah penerima beasiswa sehingga secara administratif terikat dengan ketentuan penerima beasiswa, sehingga Almarhumah mengurungkan niat tersebut," ungkapnya.
Kemenkes Hentikan Prodi Anestesi
Akibat peristiwa itu, Kemenkes mengeluarkan surat edaran tentang pemberhentian program anestesi Undip di RSUP Dr. Kariadi.
"Sehubungan dengan dugaan terjadinya perundungan di Program Studi Anestesi Universitas Diponegoro yang ada di RSUP Dr. Kariadi, yang menyebabkan terjadinya bunuh diri pada salah satu peserta didik program studi anestesi Universitas Diponegoro, maka disampaikan kepada Saudara untuk menghentikan sementara program studi anestesi di RSUP Dr. Kariadi sampai dengan dilakukannya investigasi dan langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan oleh jajaran Direksi Rumah Sakit Kariadi dan FK UNDIP," demikian bunyi surat edaran Kemenkes tertanggal 14 Agustus 2024.
Sementara itu, Marsono, penjaga kos membenarkan ada salah satu penghuni kos yang meninggal dunia. Informasi ia dapatkan, korban meninggal diduga paska operasi tulang sumsum.
"Mungkin operasinya juga lama itu kecapean mungkin lupa minum obat katanya banyak kerjaan. Terakhir ketemu hari Minggu masih jajan," ucapnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa korban ditemukan tewas pada Senin (12/8) di kamar indekos yang terletak di Lempongsari, Gajahmungkur, Kota Semarang.
"Waktu kejadian itu malam Selasa, yang menemukan kakaknya, kebetulan satu kos di sini. Sempat panggil tukang kunci sampai ke Simpang Lima karena kan posisi kamar dikunci dan saat pintu terbuka sudah ditemukan tidak bernyawa," jelasnya.
Artikel Terkait
Pelajar di Srengat Blitar Bunuh Diri
Percobaan Bunuh Diri Berhasil Digagalkan Polisi Kediri