Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN– Di tengah hiruk-pikuk lanskap musik Indonesia, kadang diperlukan sebuah keberanian untuk menyelami keheningan. Seperti pelukis yang memandangi kanvas putih atau pematung yang menatapi balok batu utuh, Kumara, band instrumental asal Yogyakarta, justru memilih untuk memulai dari kekosongan. Kini, mereka secara resmi mengumumkan kelahiran suara mereka: “Dari Ketiadaan”, single perdana yang merupakan lebih dari sekadar lagu, melainkan sebuah manifesto musikal.
Nama ‘Kumara’ sendiri, yang berarti ‘Suara dari Ketiadaan’, bukanlah sekadar label. Ia adalah filosofi, sebuah kompas kreatif. Bayangkan keempat personelnya—Arya Seta (gitar), Stevano Wicaksono (drum), Giri Dhyaksa (bas), dan Ilham (kibor)—sebagai empat penjelajah yang berkumpul di sebuah ruang hampa. Alih-alih panik, mereka justru saling berbagi ‘kebisingan’ personal dari ruang hampa masing-masing, lalu memutuskan untuk bersama-sama membangun sebuah katedral bunyi dari fondasi yang tak terlihat itu.
Proses kreatif “Dari Ketiadaan” adalah sebuah ekspedisi akustik. Semuanya berawal dari Arya Seta yang, bagai seorang antropolog suara, terpukau pada keriuhan magis angklung paglak Banyuwangi. Ia tidak hanya mendengar musik, tetapi melihat sebuah hutan bunyi yang hidup dan bergerak liar. Sample rekaman ensemble etnis itu kemudian ia bawa pulang, bukan sebagai artefak mati, melainkan sebagai benih yang akan ditanam di tanah subur aliran musik modern.
Eksplorasinya berlanjut ke Pantai Selatan Yogyakarta. Di sana, Arya tidak sekadar merekam ombak; ia merekam dialog antara kehampaan dan kebisingan. Dentuman gelombang adalah suara paling keras, sekaligus pengingat akan luasnya kekosongan samudra. Suara field recording ini lalu dimanipulasi, diubah dari sekadar bunyi alam menjadi cat air digital dan tekstur latar yang memberi jiwa pada karya. Proses ini ibarat seorang alkemis yang mengubah timah suara biasa menjadi emas nada yang bernuansa.
Dengan ‘cetak biru’ yang telah dipersiapkan, Arya mengajak rekan-rekannya masuk ke dalam laboratorium spontanitas: sesi rekaman langsung di Damarasha Coffee. Momen ini adalah ritual inisiasi bagi Kumara. Layaknya seorang pemahat yang bekerja langsung dengan marmer, mereka mengukir lagu dalam satu nafas, menangkap energi mentah dan kejujuran musikal. Hasil rekaman drum akustik dari sesi ‘live’ itu kemudian diolah, menjadi jantung elektronik yang tetap berdetak hangat dan organik di dalam versi final.
Secara musikal, “Dari Ketiadaan” adalah sebuah mozaik genre yang cair. Ia adalah perjalanan yang dimulai dari ambien yang menyelimuti seperti kabut pagi, merambah ke psychedelia yang berputar-putar, didorong oleh ritme post-rock yang bergerak seperti gelombang, dan diwarnai harmoni jazz serta warna etno-fusion yang menjadi roh khas Nusantara. Semua elemen ini berpadu bukan sebagai kolase, tetapi sebagai sebuah ekosistem bunyi yang saling terhubung.
Pada esensinya, single ini adalah pernyataan keberanian. Kumara tidak melihat ‘ketiadaan’ sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai ruang potensial yang tak terbatas. “Dari Ketiadaan” adalah bukti bahwa dari vakum, justru lahir ciptaan paling murni. Seperti lukisan pointillisme yang tercipta dari titik-titik kecil di atas kanvas kosong, Kumara membangun dunianya note demi note, dari kesunyian yang mereka pilih untuk diisi.
“Dari Ketiadaan” akan tersedia di seluruh platform streaming mulai 19 Desember 2025. Siapkan diri untuk mendengarkan bukan sekadar lagu, tetapi kisah tentang bagaimana kehampaan akhirnya menemukan suaranya, dan bagaimana sebuah band lahir dengan mengukir identitasnya sendiri dari bahan baku: ketiadaan.
Tentang Kumara:
Kumara(yang berarti ‘Suara dari Ketiadaan’) adalah band instrumental yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 2024. Dengan pendekatan eksperimental, mereka meramu psychedelic, post-rock, ambient, dan jazz, lalu membumbuinya dengan nuansa etnik Indonesia. Bagi Kumara, musik adalah medium untuk mengisi ruang kosong dengan narasi bunyi yang penuh makna
Artikel Terkait
Gelaran Perdana Jogja International Art Fair Angin Segar Untuk Para Perupa
Jejak Peradaban Keraton Yogyakarta, Menjawab Tantangan Budaya Masa Kini
Yogyakarta Royal Orchestra Hangatkan Pembukaan Seminar Jejak Peradaban
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X Resmikan Pameran Karya Alex Pracoyo “Ojo Urik”, Seni Melawan Kecurangan Kecil