Kenaikan signifikan tersebut setelah Pemprov Jateng menggalakkan kawasan industri dan kemudahaan dalam perijinan dan lainnya.Baca Juga: KPU Papua: Perolehan Suara Mari-Yo, Lebih Unggul dari BTM-YB
Meski demikian menurut Sujarwanto, pihaknya juga fokus pada pengendalian inflasi di Jateng. Inflasi tinggi atau terlalu rendah juga tidak bagus.
"Tinggi rendahnya inflasi itu tidak masalah. Yang bagus itu inflasi dapat dikendalikan dan yang terpenting predictable atau bisa diprediksikan, sehingga jika terjadi inflasi tinggi kita mampu menstabilisasi," ujar Sujarwanto.
Dijelaskan Sujarwanto, pasca Covid-19, pertumbuhan ekonomi sekitaran di angka 5 persen, sedikit turun dari nasional.
"Saat Covid-19 sempat terjadi pertumbuhan minus atau terkontraksi, tapi kemudian berada sejajar dengan nasional dan Jawa Tengah selalu juga sama pada kisaran itu di 4,93 persen sementara nasional di angka 5,05 ini kondisi terakhir pada triwulan 3 pada 2024," terangnya.
Pada 2025, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengajak pertumbuhan ekonomi di tahun ketiga pemerintahannya bisa mencapai angka 8 persen.Baca Juga: Kementan Cetak 100 Ribu Hektar Sawah Baru di Kaltara
"Makanya kita berupaya keras untuk bersama-sama mewujudkan misi pemerintah pusat. Salah satunya kita galakkan kawasan industri di Jateng yang hingga saat ini memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah," tambahnya.
Lebih jauh Sujarwanto optimis pertumbuhan ekonomi di Jateng akan positif. Kualitas pertumbuhannya akan ada sustainabilitas. Baca Juga: Taruna Ikrar Buka Ruang Mahasiswa Belajar Riset Inovasi di BPOM, MoU 19 PT
"Ke depan ekspornya lumayan sehingga bisa mendongkrak meskipun import lebih besar dan import ini yang sedang kita perhatikan," tandasnya.
Lebih jauh Sujarwanto menegaskan keoptimisannya karena terjadinya integrasi kebijakan pemerintah pusat, provinsi hingga daerah.Baca Juga: Polda Didesak Menahan Calon Wakil Gubernur Papua Yang Diduga Lakukan Asusila dan KDRT
"Ini adalah momentum penting untuk mengintegrasikan antara kebijakan nasional, kebijakan daerah dan kebijakan kabupaten/kota. Kemudian perlu catatan highlight adalah penguasaan teknologi dari birokratnya, kalau penguasaan teknologinya mampu memahami pada kebijakan politiknya maka Insya Allah kita akan kuat dengan sangat baik," tandasnya lagi.
Meski demikian menurut Sujarwanto, pihaknya juga fokus pada pengendalian inflasi di Jateng. Inflasi tinggi atau terlalu rendah juga tidak bagus.Baca Juga: Putusan Sidang Kode Etik: Aipda Robig Zaenudin Dipecat!
Guru Besar Undip, Nugroho SBM mengatakan, penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah adalah konsumsi rumah tangga, lalu yang kedua adalah ekspor dan yang ketiga adalah investasi atau pembentukan modal tetap.
Tahun 2025 itu inflasi juga diperkirakan masih dalam kisaran atau target inflasi nasional yaitu 2,5 persen plus minus satu persen.Baca Juga: Isu Partai Coklat Blunder Politik Bunuh Diri
"Artinya memang inflasi di Jawa Tengah itu masih terjaga pada sasaran inflasi nasional dan inflasi yang rendah dan stabil," tandasnya.