“Karena kita belum bisa bersaing dalam kualitas, salah satu dampaknya harga TBS kita lebih rendah dibandingkan provinsi tetangga,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap para peserta tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh untuk kebun sendiri, tetapi juga membagikannya kepada anggota kelompok tani dan masyarakat sekitar.
“Kami berharap ilmu yang didapat peserta dapat ditularkan kepada anggota kelompok, tetangga, maupun teman. Dengan begitu, kualitas produksi kelapa sawit di Provinsi Bengkulu bisa meningkat,” katanya.
Pemetaan Perkebunan Penting
Selain teknik budidaya, peserta juga mendapat materi pemetaan perkebunan. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk menghasilkan data perkebunan yang lebih akurat.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arial Sosial, meminta peserta serius mempelajari teknik pemetaan karena data lokasi dan koordinat perkebunan dapat membantu pemerintah menyusun program secara lebih tepat sasaran.
.
“Pengetahuan pemetaan ini penting. Kita bisa mengetahui perkebunan yang potensial di masing-masing wilayah. Data itu nantinya dapat digunakan untuk usulan peremajaan sawit, sarana dan prasarana, maupun program lainnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar memanfaatkan kesempatan pelatihan secara maksimal.
“Ini pelatihan yang mahal. Bapak-Ibu diberi ilmu dan kesempatan untuk belajar. Karena itu, mari kita jaga dan manfaatkan pelatihan ini sepenuh hati,” kata Arial.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta. Para petani juga didorong menjadi penggerak peningkatan kualitas budidaya sawit di wilayah masing-masing.
Dengan penguatan kompetensi, pendampingan pascapelatihan, serta pemanfaatan teknologi digital, petani Bengkulu diharapkan mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih baik, meningkatkan produktivitas dan kualitas sawit, serta pada akhirnya mendorong peningkatan kesejahteraan petani.