Semarang, SUARA PEMBARUAN – Perekonomian Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 4,96 persen pada triwulan I 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 4,87 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan tahunan mencapai 15,24 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih tinggi dibandingkan nasional. Secara triwulanan (Q to Q), ekonomi tumbuh 1,80 persen, sementara nasional mengalami kontraksi sebesar -0,98 persen," ujar Plt Kepala BPS Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih, dalam rilis daring, Senin (5/5/2025).
Kinerja sektor pertanian bahkan lebih kuat secara triwulanan, tumbuh hingga 22,75 persen, berkat panen jagung dan padi yang melimpah. Endang menekankan pentingnya penguatan sektor pertanian agar terus menjadi penopang ekonomi daerah.
Secara Q to Q, Jawa Tengah berada di posisi kedua secara nasional, di bawah Maluku Utara yang mencatat pertumbuhan 2,75 persen.
Investasi
Jawa Tengah juga berhasil menarik investasi sebesar Rp21,848 triliun pada triwulan I 2025, yang berasal dari 20.431 proyek dan menyerap 97.550 tenaga kerja. Dari total tersebut, Rp14,08 triliun berasal dari penanaman modal asing (PMA) dan Rp7,26 triliun dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).
PMA didominasi sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, plastik, dan karet. Sementara PMDN banyak mengalir ke sektor kawasan industri, perkantoran, dan makanan.
"Investasi ini sangat luar biasa dan mendukung pengembangan ekonomi Jawa Tengah," ujar Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2025, di Semarang.
Luthfi menyebutkan, forum investasi tahunan ini memperkuat kerja sama antarpelaku usaha dalam dan luar negeri. Pemprov juga mendukung iklim investasi melalui infrastruktur memadai, sistem perizinan digital, serta kawasan industri strategis seperti KEK Kendal dan Batang.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Rahmat Dwisaputra, menambahkan bahwa investasi menyumbang 30,53 persen terhadap PDRB Jateng dan tumbuh 6,55 persen pada 2024. Dalam CJIBF dan UMKM Gayeng 2024 lalu, nilai komitmen investasi (letter of intent) mencapai Rp13,32 triliun dengan transaksi perdagangan Rp12 miliar.*