Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) semakin dilirik investor dalam dan luar negeri. Kepastian kontrak pembelian listrik selama 30 tahun oleh PT PLN (Persero) dinilai menjadi daya tarik utama yang membuat investasi hijau ini kian prospektif sekaligus mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia.
Pemerintah pun bergerak mempercepat realisasi proyek melalui penyederhanaan regulasi. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan berbagai aturan yang sebelumnya dinilai menghambat pembangunan PSEL telah dipangkas sehingga proses investasi menjadi lebih sederhana.
"Tugas saya cuma satu, regulasi diperbaiki. Dari ratusan tinggal tiga aturan. Kalau ada hambatan, saya tinggal undang. Kalau masih tidak bisa saya atasi, saya lapor. Presiden yang memimpin," ujar Zulkifli Hasan dalam acara Waste to Energy Talks 2026 di Jakarta, Kamis (16/7).
Selain menjadi solusi pengelolaan sampah perkotaan, PSEL juga dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi melalui perdagangan karbon. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menjelaskan bahwa keberhasilan menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor limbah dapat dikonversi menjadi sertifikat pengurangan emisi yang memiliki nilai jual di pasar karbon nasional.
Menurutnya, daerah yang mampu menekan emisi hingga jutaan ton setara karbon dioksida berpotensi memperoleh pendapatan hingga ratusan miliar rupiah melalui mekanisme perdagangan karbon yang diakui pemerintah.
"Begitu Bapak mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp100 miliar sampai Rp150 miliar bisa didapat karena dijual di pasar karbon. Nantinya pemerintah akan menerbitkan Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia yang dapat diperdagangkan," jelas Jumhur.
Tingginya prospek bisnis PSEL juga diakui Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir. Ia menyebut proyek ini mendapat respons luar biasa dari investor domestik maupun internasional, termasuk berbagai lembaga keuangan nonbank yang ingin ikut berinvestasi.
Menurut Pandu, skala proyek PSEL di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia sehingga menarik perhatian pelaku investasi global.
"Alhamdulillah banyak sekali minat, baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Bahkan banyak lembaga nonbank yang ingin masuk. Semua peserta investasi berlomba-lomba berpartisipasi karena proyek ini secara akumulatif merupakan proyek waste to energy terbesar di dunia," katanya.
Di sisi lain, PT PLN (Persero) memastikan kesiapan menjadi pembeli seluruh listrik yang dihasilkan pembangkit PSEL. Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, mengatakan komitmen tersebut didukung skema Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang sebagaimana telah diterapkan pada berbagai proyek pembangkit lainnya.
"Kami memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik yang dihasilkan akan diserap PLN sebagai offtaker. Mitra tidak perlu khawatir karena komitmen jangka panjang PLN sudah terbukti melalui berbagai PPA yang bahkan berlangsung lebih dari 30 tahun," tegas Suroso.
Ia menambahkan, pengembangan PSEL menjadi bagian penting dalam strategi transisi energi nasional. Selain menambah pasokan energi baru terbarukan, proyek tersebut juga menjadi solusi terhadap persoalan darurat sampah yang dihadapi banyak daerah.
"Dalam konteks transisi energi menuju energi baru terbarukan, PSEL akan memperkuat portofolio energi bersih PLN sekaligus membantu mengatasi persoalan sampah. Jika diperlukan, program ini siap diterapkan di seluruh kota di Indonesia sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emissions 2060," pungkasnya.*
Artikel Terkait
PLN Pastikan Pasokan Listrik Bengkulu Aman, Pemprov Perkuat Sinergi Dukung Progrsm PSN
Jogja Gelap Berjam-jam, Warganet Serbu Akun PLN Usai Pemadaman Tanpa Pemberitahuan
Pemprov Bengkulu, Kementerian ESDM, dan PLN Percepat Program Listrik Desa
PLN Indonesia Power PLTA Musi Edukasi Pencegahan Karhutla dan Bagikan Bibit Pohon Buah kepada Masyarakat
PLN Bagi Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik, Momentum Tahun Ajaran Baru Bikin Hemat